Belajar memaafkan dan minta maaf

Bermula dari libur lebaran, kakakku (Gloria) dan suaminya bang Raja akan melangsungkan resepsinya yang ketiga di Singkawang. Dari awal memang aku tidak berencana ikut, karena bapak-mama juga baru datang ke Jakarta. Lagian kan yang datang mereka aja, aku dan abang-abang juga tidak ada yang hadir. Jadi diputuskan untuk aku tidak ikut ke Singkawang (sebenernya sih pengaruh tiket yang mahal juga :p)

            Sewaktu kakak nikah dengan mengadakan 2 kali resepsi saja aku sudah berdecak kagum, apalagi mama bilang akan mengadakan resepsi kembali di Singkawang. Itu dikarenakan profesi orang tuaku sebagai Pendeta, yang menjadikan jemaatnya yang ada di mana-mana (makanya kakak mengadakan 3 resepsi di 3 pulau (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan). Ini juga berpengaruh karena kakakku adalah anak pertama yang menikah, dengan melangkahi abangku yang pertama (yang sebentar lagi akan berencana menyusul kakakku, Amin!) menjadikan resepsinya diadakan lagi di Singkawang. Awalnya sempet terpikir, kakak aja bisa 3x resepsi aku juga kalau nikah akan kayak gitu ah. Hehe

            Setelah tiba hari sabtu  tanggal 3 Agustus 2013, kakak dan b.Raja berangkat pagi jam 09.10 padahal pesawatnya jam 13.50 (kalau tidak salah). Kakak sih alesannya takut macet jalan ke bandara karena puncak arus mudik. Ternyata dugaan kakak melenceng, mereka sudah sampai di bandara jam 10.08. Namun dari pengaduan abang iparku, mereka macet saat chek-in, yah setidaknya dugaan kakakku ada benarnya juga..hehehe

            Dari perbincangan kami, abangku yang ketiga (b.Satdes) katanya akan menemaniku selama liburan ditinggal kakak, awalnya dia mengajakku berlibur ke pulau seribu bersama teman-temannya tapi aku memilih tidak ikut dan dia juga tidak. Setelah kakak berangkat, aku sudah minta salah seorang temanku untuk menemaniku di rumah, namun dia belum memberi kepastian. Dari siang aku ke luar rumah untuk pergi mengikuti acara syukuran ke rumah salah satu mantan naposo yang baru melangsungkan pernikahan di kampung. Sorenya jam 18.00-20.00 aku akan mengikuti latihan badminton, karena pada hari sabtu ini, kami akan bertanding melawan naposo gereja-gereja lain dalam rangka memenuhi undangan parheheon naposo HKBP Rawamangun. Setelah selesai latihan, aku menghubungi temanku, namun dia tidak bisa. Sebenernya kesal, kenapa dia tidak memberitahu dari awal tapi yasudahlah.

            Sebenarnya dari jam 16.19 b.Satdes menanyakanku lagi dimana dan nanti malam kemana? Namun sewaktu aku minta dia menemaniku dia bilang gak bisa. Kesel banget, adeknya ditinggal sendiri di rumah.huhuhu.. Malamnya aku pulang ke rumah sendirian dari latihan badminton, aku menelpon si abang tapi tidak ada respon, akupun menelpon bapak untuk berbicara dengan bapak-mama dan kakak di sana, setidaknya menemaniku sebelum tidur, namun telponku juga tidak ada respon . Akhirnya aku tidur sendiri di rumah. Pagi ini aku gereja jam 06.00 di HKBP Suprapto, padahal sebenernya hari ini aku ada pelayanan paduan suara di ibadah sore jam 18.00 di HKBP Semper, namun aku mengurungkan niatku karena aku ingin ke Cibinong berkumpul bersama-sama saudaraku di sana (termasuk bertemu abangku yang menyebalkan satu itu, tapi tetap aku sayang J)

            Sampai siang, b.Satdes pun tidak ada menanyakan kenapa aku nelpon semalem, bapakpun tidak ada telpon balik (kalau bapak dimaklumi karena hp im3 nya mungkin belom di cek dari semalem, lagi pula hari minggu pasti bapak sibuk dengan pelayanannya). Kesal luar biasa sama b. Satdes, akhirnya aku yang menghubungi dengan rasa kesal yang berkecamuk karena merasa tidak diperdulikan. Saat chat ku di bales, aku tidak meresponnya kembali. Sampai akhirnya abangku yang pertama (b.Posan) menelpon, aku sempat membiarkannya karena masih kesal. Padahal gak ada hubungannya sama b.Posan.hehe Aku membuat pesan di grup whatsaapp keluargaku mengenai kekesalanku, akhirnya b.posan menelponku untuk yang kedua kalinya dan aku pun mengangkatnya, dengan suara bergetar diikuti air mata yang menetes tanpa kusadari. Bisa dibilang air mata itu adalah rasa haru akhirnya ada yang menghubungiku (haha.. sedihnya..) setelah berbicara panjang lebar ternyata abang datang juga ke Singkawang, dia membuat surprise datang tiba-tiba. Semakin kesal saja, namun abang dan mama langsung menawarkanku untuk segera mencari tiket untuk berangkat ke Singkawang besok. Mereka tidak tega mendengar tangisanku, namun aku mengatakan tidak bisa karena hari sabtu aku akan tanding badminton. Di telpon aku menceritakan kekesalanku karena tidak ada yang menanyakan kabarku, terutama b.Satdes yang konteksnya kami berada di Jakarta.

Setelah selesai menelpon,  b.Satdes pun membalas chat di grup dengan nada kesal juga. Akhirnya kami berdua saling menyalahkan satu sama lain, abang mengatakan aku manja, tidak mandiri, mencari-cari perhatian, bilang aku selalu merepotkan orang. Semakin teriris rasanya hati ini. Hingga akhirnya aku bilang, baru kali ini aku merasakan sakit hati sesakit ini sama abang sendiri, namun kata-kata itupun direspon balik. Abang bilang dia juga sering sakit hati sama omonganku. Dengan rasa sakit di hati akupun bilang di grup, bahwa ”aku gak akan minta perhatian sama orang bapak-mama, abang dan kakak kalau aku gak sayang sama kalian. Karena aku sayang sama kalian makanya aku butuh perhatian kalian. Kalaupun aku mandiri, aku tetap butuh kasih sayang kalian” Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi obrolan ini, lebih baik aku tidak menghubunginya lagi pikirku. Sempat beberapa lama aku terdiam dan menangis. Aku pun melanjutkan pekerjaan rumah kembali. Setelah semua beres, akupun kembali berpikir, orang tuaku tidak pernah mengajarkan kami untuk berlama-lama saling diam-diaman, apalagi menyimpan kesal dan dendam. Akupun memutuskan untuk membuat tulisan ini sebagai permintaan maaf dan rasa sayangku untuk keluargaku. Aku terpikir membuat tulisan ini karena teringat akan bacaan Alkitab dari Matius 18:21-22 yang isinya: kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ”Tuhan , sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya :”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Maka dengan rasa yang menggebu-gebu akupun bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini sebelum pagi menyingsing, bahkan sampai aku menunda berangkat ke cibinong, karena mama sering bilang (sama seperti di Alkitab) tertulis di Efesus 4:26 isinya : Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.

Maaf yah Pa-Ma, b.Posan, k.Gloria, b. Satdes dan keluarga baru kami (b.Raja) kalau aku ada salah. Aku sangat mengasihi kalian. God bless us and love you all J

Leave a comment »

TUGAS SOFTSKILL SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI “EVALUASI KINERJA PADA KARYAWAN YANG MENGALAMI MUTASI MENGGUNAKAN PAPI KOSTIK”

TUGAS SOFTSKILL SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

“EVALUASI KINERJA PADA KARYAWAN YANG MENGALAMI MUTASI MENGGUNAKAN PAPI KOSTIK”

 

Penyusun:

¨      Devi Denanda (15509862)

¨      Diaz Prabowo (15509135)

¨      Dienning Oktishinta (15509040)

¨      Epifany Limbong (16509091)

¨      Erlinda Astriana (13509230)

¨      Fitri Yanti (12509173)

¨      Hafia Gina Rosada (14509338)

¨      Hanan (15509201)

¨      Chairul Anwar (15509201)

 

Dosen:

Dr. Asep Juarna


PAPI Kostick (Perception and Preference Inventory

PAPI Kostik di buat oleh Guru Besar Psikologi Industri asal Massachusetts, Amerika, Dr. Max Martin Kostick, pada awal tahun 1960-an. PAPI Kostick mengukur dinamika kepribadian (psychodynamics) dengan memperhatikan keterkaitan dunia sekitarnya (environment) termasuk perilaku dan nilai perusahaan (values) yang diterapkan dalam suatu perusahaan / situasi kerja dalam bentuk motif (need) dan standar gaya perilaku menurut persepsi kandidat (role) yang terekam saat psikotest.

Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari Papi Kostick, maka kita akan banyak memperoleh informasi mengenai profile individu baik dari segi tipologi kepribadiannya, maupun dalam kontek pekerjaannya.

PAPI Kostick merupakan laporan inventori kepribadian (self report inventory), terdiri atas 90 pasangan pernyataan pendek berhubungan dalam situasi kerja, yang menyangkut 20 aspek keribadian yang dikelompokkan dalam 7 bidang: kepemimpinan (leadership), arah kerja (work direction), aktivitas kerja (activity), relasi social (social nature), gaya bekerja (work style), sifat temperamen (temperament), dan posisi atasan-bawahan (followership).

Tes Papi Kostick saat ini sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan / organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari Papi Kostick, maka kita akan banyak memperoleh informasi mengenai profile individu baik dari segi tipologi kepribadiannya, maupun dalam kontek pekerjaannya.

KELEBIHAN TES PAPI KOSTICK

PAPI menggunakan forced choice format pada pasangan-pasangan pernyataan yang setara. Sangat sulit untuk melakukan faking/ manipulasi. Item-item pendek, ringkas, Interpretasi logik dan spesifik sehingga dapat difahami dengan jelas oleh tester maupun testee. Sangat berguna untuk evaluasi karyawan karena menggambarkan administration styles dan dapat digunakan 2 orang/ lebih untuk mengetahui hubungan atasan bawahan dan mengembangkan solusi interpersonal.

Laporan hasil tes disampaikan dalam bentuk visual (berupa cakram). Laporan ini akan memudahkan pengguna (user) mengenali potensi dirinya secara komprehesif, namun tetap mudah dipahami. Hasil analisa menghasilkan dinamika kepribadian seseorang yang telah dipengaruhi situasi kerja sekitarnya, yang merupakan gambaran kepribadian keseluruhan dan tidak terpisah -pisah, serta menjadi satu dinamika kepribadian yang utuh.
Mengukur personality traits, tes ini juga mengukur psychological needs.

Analisis konfigurasi

  • Membuka peluang untuk membuat pola konfigurasi dari orang yang dikehendaki user untuk dibandingkan dengan konfigurasi kandidat pada seleksi, promosi, atau mutasi
  • Mengukur adjusment dan perkembangan calon karyawan selama masa percobaan
  • Membandingkan konfigurasi dari pasangan yang akan (atau telah) terlibat dalam kerjasama team, mengidentifikasi aspek-aspek positif dan yang bisa menjadi penghambat, peluang melakukan treatment, dan mengukur efek daripadanya
  • Merencanakan dan mengukur hasil training

10 ROLE SCALES

  • Leadership role (L)
  • Organized type (C)
  • Attention to detail (D)
  • Conceptual thinker (R)
  • Social harmonizer (S)
  • Ease in decision making (I)
  • Work pace (T)
  • Emotional restraint (E)
  • Role of the hard worker (G)
  • Integrative planner (H)

10 NEED SCALES

  • Need to control others (P)
  • Need for rules and supervision(W)
  • Need for change (Z)
  • Need to finish a task (N)
  • Need to be noticed (X)
  • Need to belong to group (B)
  • Need to relate closely to individuals (O)
  • Need to be forceful (K)
  • Need to achieve (A)
  • Need to be supportive (F)

ADMINISTRASI

  • PAPI-N: Responden diminta untuk memberi tanda sejauhmana mereka setuju/ tidak setuju dengan pernyataan dalam rating scale 7 skala. PAPI-N menyertakan 6-item ‘ skala “social desirability”.
  • PAPI-I: Masing-masing item terdiri atas dua pernyataan (A dan B). Subjek diminta untuk memilih satu diantara pernyataan tersebut yang sesuai dengan dirinya, dan bukan memilih yang dianggap umum atau wajar oleh masyarakat.
  • Apabila subjek memilih pernyataan A, subjek diminta untuk melingkari tanda panah yang ada diatas nomor item pada lembar jawaban.
  • Sedangkan, apabila subjek memilih pernyataan B, subjek diminta untuk melingkari tanda panah yang ada dibawah  nomor item  pada lembar jawaban
  • Tidak ada batasan waktu, tapi biasanya dapat diselesaikan 25-35 menit. Skor biasanya dihitung pada 20 skala: 10 skala peran dan 10 skala kebutuhan.
  • Atas dasar skor ini, kedudukan individu dipetakan ke dalam suatu profil (‘’wheel’’ ), yang diorganisir di sekitar 7 struktur faktor.
  • Alat ini terutama didesain untuk digunakan oleh para manajer, staff teknis senior, penyelia pekerjaan kantor dan trainee pasca sarjana.

SKORING

  • Isi kotak  dari masing-masing bagian yang diukur, yang terdapat pada lembar jawaban, dengan menjumlahkan tanda panah yang dilingkari dan menuju ke arah kotak tersebut.
  • Cek total yang terletak di atas dan di bawah lembar jawaban dengan menjumlahkan nilai dari aspek yang berkedudukan sejajar dengan kotak tersebut. Jumlah total yang di atas adalah 45, begitu juga dengan yang di bawah. Jadi jumlah keseluruhan harus 90, sesuai dengan jumlah item.
  • Pindahkan nilai yang terdapat pada masing-masing bagian yang diukur, yang terdapat pada  lembar jawaban ke lembar diagram, sesuai dengan kode huruf yang ada, dengan melingkari nilai dari bagian yang diukur. Kemudian, hubungkan seluruh lingkaran tersebut sehingga data siap di interpretasi.

ASPEK YANG DIUKUR

  • Ada 7 aspek yang diukur, yang masing-masing aspek terdiri atas bagian-bagian yaitu:
  • followership yang terdiri atas bagian F dan W
  • work direction  yang terdiri atas bagian N, G, dan A
  • leadership  yang terdiri atas bagian L, P dan I
  • activity yang terdiri atas bagian T dan V
  • social nature yang terdiri atas bagian X, S, B, dan O
  • workstyle  yang terdiri atas bagian R, D, dan C
  • temperament yang terdiri atas bagian Z, E dan K.

F: need to support authority  (kebutuhan membantu atasan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh kekuatan dorongan dalam diri seseorang untuk dihubungkan dengan otoritas atau kekuatan pimpinan, kesesuaian dengan petunjuk atau saran, dan “kemapanan” dalam struktur hierarki, sebagai pembeda terhadap mereka  yang mandiri dan percaya diri.

W: need for rules and supervision  (kebutuhan untuk mengikuti aturan dan pengawasan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh seseorang memerlukan dukungan, arahan atau tuntunan dari lingkungan kerja yang teratur/terstruktur, sebagai lawan dari situasi dimana seseorang dapat menampilkan sikapnya yang otonom, berinisiatif dan dapat mengarahkan dirinya sendiri.

è Ekstrimnya adalah orang terlalu tergantung pada organisasi pada satu sisi dan orang lain bersifat “self starter” pada sisi yang lain.

N: need to finish a task  (kebutuhan menyelesaikan suatu tugas sendiri)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh dorongan dari dalam diri seseorang untuk menangani sendiri suatu tugas sampai benar-benar selesai.

è Faktor ini mencerminkan ketekunan, pada titik “single mindedness” pada ekstrim tinggi, dan kurangnya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas, bahkan mengabaikannya pada ekstrim yang lain

G: role of hard intense worker  (peran – pekerja keras)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh seseorang mengidentifikasikan  dirinya dengan kerja keras.

è Faktor ini menunjukkan penerimaan seseorang terhadap bekerja secara intensif dengan upaya yang sesuai, dalam pandangan seseorang yang melihat kerja sebagai sesuatu yang menarik, bahkan menyenangkan atau dalam pandangan seseorang yang lebih suka menghindari beban kerja bila hal tersebut dimungkinkan.

A: need to achieve  (kebutuhan berprestasi)

è Faktor ini menunjukkan seberapa besar daya dorong pribadi dan dalam diri seseorang, seberapa jauh keinginannya untuk mencapai sukses, dan seberapa besar ambisinya. Faktor ini mencerminkan derajat keyakinan dan komitmen dalam dirinya untuk mendapatkan hasil dan untuk mencapai tujuan kerja yang ditentukannya bagi dirinya sendiri.

L: leadership role  (peran pemimpin)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh keyakinan diri seseorang untuk memproyeksikan dirinya dalam posisi pemimpin, seberapa jauh kenyamanan yang dirasakannya dalam sikap kepemimpinan, dan seberapa jauh  ia menerima dirinya dalam peran tersebut.

P: need to control others  (kebutuhan mengatur orang lain)

è Faktor ini menunjukkan seberapa besar keinginan seseorang untuk memegang kendali/kontrol, untuk menggerakkan kekuatan dan dominasi terhadap orang lain.

è Faktor ini menunjukkan derajat kemauan seseorang untuk melaksanakan tanggung jawab yang timbul dari peran kepemimpinan untuk “bekerja melalui orang lain dalam menyelesaikan tugas”.

I: ease in decision making  (peran – pembuat keputusan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa besar kemampuan seseorang dalam kaitan dengan tugas untuk mengambil keputusan, menerima tanggung jawab dari keputusan yang diambilnya dan menerima konsekuensi dari keputusannya tersebut.

è Faktor ini juga menunjukkan derajat rasa tidak senang atau rasa tertekan bila menghadapi situasi dimana harus mengambil keputusan.

T: pace  (peran – pembuat keputusan)

è  Faktor ini menunjukkan kecepatan dimana seseorang suka (secara mental bekerja).

è  Faktor ini menunjukkan kecepatan atau kesigapan mentalnya untuk bekerja, bukan dalam arti kepandaian atau inteligensinya, tetapi dalam arti kesigapannya untuk langsung bekerja (on-the go), dan kepekaannya terhadap “urgensi”.

V: vigorous type  (peran –sibuk)

è Faktor ini menunjukkan derajat seberapa jauh seseorang dapat dihubungkan dengan penampilan, aktivitas dan gerakan fisik.

è Faktor ini menunjukkan energi fisik yang dimiliki seseorang dan kemauannya untuk menunjukkan hal tersebut dalam kegiatannya.

X: need to be notice  (kebutuhan untuk diperhatikan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh keinginan seseorang untuk dikenali, untuk mencari perhatian yang dilakukan secara nyata dan terbuka.

è Faktor ini mencerminkn  dorongan untuk “tampil”, menjadi “sorotan” dan dikenal.

S: social extension  (peran – bermasyarakat)

è Faktor ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam melakukan hubungan/interaksi dengan orang lain secara hangat atau menyenangkan.

è Faktor ini mencerminkan derajat keyakinan diri seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, memahami arti jalinan sosial dan benar-benar menyukai hubungan dengan orang.

B: need to belong to groups  (kebutuhan diterima oleh kelompok)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh kebutuhan seseorang untuk berada dalam kaitan dengan kelompok, untuk dapat diterima dan menjadi bagian dari kelompok.

O: need for closeness  (kebutuhan akankedekatan dan kasih sayang)

è  Faktor ini menunjukkan kebutuhan seseorang akan keakraban, kehangatan dan hubungan perseorangan yang sesuai/cocok.

è  Faktor ini juga menunjukkan derajat seberapa jauh arti penerimaan dan persetujuan orang lain bagi dirinya.

è  Di lain pihak, faktor ini juga menunjukkan derajat seberapa besar seseorang merasa kurang senang atau merasa terluka akibat penolakan, isolasi atau ketidaksetujuan dari orang lain.

R: theoritical type  (peran – orang teoritis)

è Faktor ini menunjukkan kesukaan seseorang terhadap pemikiran-pemikiran analitis dan konseptual, kemampuannya untuk menangani pandangan/pemikiran abstrak.

è Faktor ini menunjukkan cara yang lebih disukainya dalam bekerja secara mental, dan bukan petunjuk terhadap kecepatannya bereaksi secara mental atau terhadap inteligensinya.

D: interest in working with details  (peran – berminat bekerja dengan hal-hal rinci)

è Faktor ini menyatakan kesigapan seseorang untuk menggunakan waktunya dalam mempertim-bangkan/pemikiran detail dari setiap aspek dalam suatu tugas atau pekerjaan.

è Faktor ini menunjukkan kesukaan seseorang terhadap hal-hal detail.

C: Organized type  (peran – mengatur)

è Faktor ini menunjukkan tingkat seberapa jauh seseorang menempatkan  keteraturan, sistem dan prosedur pada diri sendiri dan pada lingkungan kerjanya.

è Faktor ini menunjukkan derajat atau tingkat pentingnya berada dalam situasi kerja yang terstruktur, terorganisasi, dan rapi serta mempunyai metode sebagai pembeda terhadap pendekatan apa adanya dari orang-orang yang cenderung “seadanya saja”.

Z: need for change  (kebutuhan akan perubahan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh keinginan seseorang terhadap adanya variasi, stimulasi dan inovasi dalam pekerjaannya.

è Kondisi ekstrimnya adalah keinginan seseorang untuk berada pada lingkungannya yang rutin, aman dan dapat diperkirakan perubahannya

è Di lain pihak kebutuhan terhadap adanya perubahan yang terus menerus tanpa henti di lingkungan kerjanya.

E: emotional restraint

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh kemampuan seseorang untuk menahan atau melakukan kontrol terhadap keluarnya atau terekspresikannya perasaannya atau emosinya.

è Faktor ini menunjukkan tingkat sikap seseorang terhadap disiplin, terhadap kemampuan seseorang untuk tidak menunjukkan emosinya atau sebaliknya terhadap mereka yang bersikap sangat terbuka dalam menampilkan/memperlihatkan perasaan/emosinya.

K: need to be forceful

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh seseorang memiliki kekuatan emosi dan sikap asertif, yaitu dorongan emosi yang kuat, bahkan yang agresi, dari dalam dirinya.

è Di lain pihak, faktor ini juga menunjukkan tingkat ketidaksukaan seseorang terhadap sikap/perasaan yang keras dan keinginannya untuk berada dalam keadaan yang harmonis dan tidak asertif.

ANALISIS DATA

  • Middle Range : Berarti bahwa individu berada pada tingkat cukup atau rata. Skor vektor 4- 5.
  • Extreme

High Analysis; berarti bahwa individu berada pada tingkat tinggi atau sangat tinggi. Skor vektor 6 – 9.

Low Analysis; berarti bahwa individu berada pada tingkat rendah atau sangat rendah. Skor vektor 0 – 3.

Bagi vektor Z dan K, High Analysis dan Low Analysis-nya berlaku sebaliknya.

  • Adjecent Analysis

Analisis dalam bentuk membandingkan antara vektor yang berada disebelah kiri  dengan vektor yang berada di sebelah kanan (menyilangkan).

  • Opposite Analysis

Analisis dalam bentuk membandingkan antara vektor yang berada di depan/yang saling berhadapan atau berseberangan.

  • Linkage Analysis

Analisis dalam bentuk memperhatikan hasil dari vektor secara keseluruhan (semua vektor dianalisis) kemudian dibuat suatu kesimpulan dari hasil analisis semua vektor tersebut.

  • Vektor Analysis

Analisis dengan cara membandingkan antara salah satu karakteristik vektor yang ekstrim dengan karakteristik vektor ekstriom lainnya, seperti vektor yang sangat tinggi pula, dan sebaliknya, ataupun vektor yang sangat tinggi dengan vektor yang rendah.

Sumber: http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-papi-kostick-perseptual-and.html

Leave a comment »

3 IDIOTS

3 Idiots menceritakan kisah tiga orang sahabat, yang kuliah di Imperial College of Engineering, salah satu perguruan tinggi  terbaik di India. Ketiganya yaitu Farhan Qureshi (R. Madhavan), Rastogi Raju (Sharman Joshi), dan Rancchoddas “Rancho” Shyamaldas Chanchad (Aamir Khan). Farhan dan Raju adalah mahasiswa dengan latar belakang sederhana sementara Rancho dari keluarga kaya. Farhan sebenarnya bercita-cita menjadi seorang fotografer, namun keinginan itu tidak bisa dicapai karena keinginan ayahnya untuk masuk ke perguruan tinggi. Raju menanggung beban untuk mengangkat derajat keluarganya yang miskin. Sementara Rancho adalah si jenius yang kaya raya tujuannya belajar adalah untuk bersenang-senang dan karena kecintaannya kepada dunia tehnik.

Pada saat mengikuti perkuliahan Rancho memiliki pandangan berbeda mengenai cara belajar. Dia berpandangan bahwa belajar yang baik adalah dengan menyenangi dan mengerti perkuliahan tersebut dan menggunakan nalar. Sedangkan dosen yang mengajar hanya berdasarkan “teks book. Ia menentang salah satu pengajarnya Profesor Viru atau biasa di panggil “Virus”(Boman Irani). Hal ini di awali setelah ada salah seorang mahasiswa bernama Joy Lobo, gantung diri di kamar asramanya, karena penemuannya (berupa  syarat untuk kelulusan) yang selalu ditolak. Kemudian Rancho menentang Virus dan memberikan sebuah data banyaknya mahasiswa yang gagal, di sebabkan oleh salahnya metode pengajaran, yang hanya menitik beratkan dari nilai ujian bukan atas dasar kreatifitas diri mahasiswa.

Semenjak itu mulailah perseteruan antara Rancho dan Virus. Virus menjudge Rancho dan ke dua kawan baiknya itu sebagai “idiot”. Ia juga mempengaruhi Farhan dan Raju untuk menjauhi Rancho. Sebaliknya siswa kesayangan Virus adalah Chatur Ramalingam atau “Peredam”, (Omi Vaidya). yang melihat peringkat tertinggi berdasarkan nilai saja.

Rancho jatuh cinta kepada mahasiswi Jurusan Medis, Pia (Kareena Kapoor) putri dari Virus. Namun ketegangan terjadi, saat mereka sedang mabuk berat dan masuk ke rumah Virus seperti maling. Virus mendapati ada yang tidak beres di rumahnya, akhirnya mereka kabur karena takut ketahuan, sementara Raju menyempatkan buang air kecil di pekarangan, dan Viruspun melihat siapa yang menyusup ke rumahnya. Keesokannya, Virus memanggil Raju ke kantor. Mengancam akan mengeluarkannya dari kampus. Raju memohon agar jangan di keluarkan. Ia bisa tetap kuliah namun Rancho akan di keluarkan. Di antara dua pilihan yang cukup sulit. Raju nekat lompat dari jendela kantor virus di lantai 3 dan membuatnya harus di rawat secara intensif. Pia menyarankan agar Raju di bangkitkan dengan motivasi yang bisa membuatnya bisa sembuh dari koma.

Semenjak kejadian itu, Farhan dan Raju mengikuti pandangan Rancho untuk mengikuti suara hati mereka. Farhan memutuskan untuk mengejar kecintaannya kepada fotografi. Menceritakan impiannya kepada ayahnya. Namun ayahnya menolak dan mengatakan, jika tidak maka kau akan bunuh diri seperti temanmu? Sambil menangis Farhan menjawab “tidak”. Kemudian ia bersumpah di depan ayahnya sambil membuka dompetnya yang berisi foto ayah dan ibunya. Farhan berkata, Raju dan Rancho menasehati, jika ia bunuh diri apa yang terjadi pada senyum orang tua mu yang ada di foto ini? Ayahnya pun sadar dan merestui cita-cita anaknya sambil memeluknya.

Ketika Raju menghadiri wawancara untuk sebuah pekerjaan di perusahaan. Ia hadir dengan tubuh yang masih cedera dan duduk di kursi roda. Raju dalam wawancara menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang jujur dan apa adanya. Walaupun sebenarnya jawaban tersebut sangat tidak di harapkan oleh perusahaan, karena mereka butuh orang yng pandai merangkai kebongongan. Namun karena kejujurannya ia di terima bekerja.

Virus tidak simpatik akan kejadian yang dialami Raju, ia bahkan mengakali dengan membuat soal ujian tersendiri agar Raju tidak lulus ujian. Pia mendengar ide ayahnya dan menentangnya. Pia pun marah dan mengatakan bahwa kakaknya tidak tewas dalam kecelakan, tetapi ia bunuh diri di depan kereta dan meninggalkan surat kepada Virus yang selama ini di sembunyikan Pia. Isi surat tersebut adalah pernyataan kakaknya yang merasa terpaksa sekolah di bidang, padahal ia ingin sekali mengejar impiannya di bidang sastra.

Pia keluar dari rumah, mengambil kunci cadangan dan membocorkan hal ini pada Racho. Racho dan Farhan menyusup masuk ke kantor Virus dan mencuri soal ujian tersebut. Namun mereka lupa mematikan mesin fotokopi dan Virus mengetahuinya. Setelah itu berkas soal tersebut di serahkan kepada Raju, tapi Raju membuang kertas tersebut dan mengatakan kepada keduanya bahwa ujian ini tidak boleh di menangkan dengan cara curang.

Selanjutnya Virus memergoki dan mengusir mereka bertiga. Kejadian ini bertepatan dengan anak Virus yaitu Mona (Mona Sigh) yang hamil tua dan tinggal menunggu melahirkan. Saat itu hujan turun sangat deras dan menyebabkan banjir, sehingga tidak dapat mengantar Mona ke Rumah sakit. Sementara Pia tidak di rumah, karena masalah dengan ayahnya. Rachopun memerintahkan menghubungi Pia melalui VOIP, untuk membantu proses persalinan darurat.

Kepanikan terjadi saat listrik tiba-tiba padam. Racho berpikir keras agar bisa menyalakan listrik menggunakan power baterai dari mobil Virus. Pia panik dan menyuruh Rancho menyiapkan penyedot untuk menarik bayi. Saat genting tersebut mereka tidak bisa menemukan alat seperti itu. Racho pun mengakalinya dengan membuat alat itu dari Vaccuum cleaner  yang ia modifikasi. Bayipun lahir, akan tetapi tidak bergerak sama sekali dan tidak menangis. Kemudian Rancho mengendong bayi dan mengucapkan “all is well”. Bayi akhirnya menendang muka Rancho beberapa kali dan mulai menangis, kontan mereka semua bergembira dan terharu.

Dari kejadian ini, Viru menyadari sikap dictator nya selama ini, dan mengatakan pada bayi “ia boleh jadi apa saja yang ia mau!,” termasuk jadi pemain bola. Rancho harus bergegas karena ia sudah di usir, Virupun menghampirinya dan memberikan sebuah pena, pemberian sebuah pena merupakan simbol seseorang Profesor kepada muridnya yang berprestasi dan cemerlang. Dan Viru mengakuinya bahwa murid itu adalah Rancho.

Setelah, acara wisuda dan kelulusan. Rancho kehilangan kontak dengan Raju dan Farhan. Selama dekade itu pula Chatur masih menyimpan dendam kepada Rancho, setelah kejadian dipermalukannya dia oleh 3 idiot, saat pidato penghargaannya di depan umum. Chatur bergabung bersama Farhan dan Raju, memulai perjalanan untuk menemukan Rancho. Chatur telah menjadi pengusaha kaya dan sukses dengan tujuan akan memamerken keberhasilannya tersebut kepada Rancho. Chatur juga ingin menunjukan kadar gengsinya yang begitu tinggi. Akan kerja sama dengan calon rekan bisnis yang memiliki banyak sekali paten bernama Phunsukh Wangru yang merupakan orang yang sangat Chatur kagumi.

Akhirnya mereka menemukan rumah Rancho, namun Raju dan Farhan menemukan Shyamaldas Chanchad (Rancho) adalah orang lain, bukan Rancho yang selama ini mereka kenal. Keluarga Rancho Jaaved Jaffrey membiayai Rancho untuk belajar dengan perjanjian Rancho memakai nama Shyamaldas Chanchad di izajahnya. Rancho tidak peduli ia hanya ingin belajar, itulah sebabnya kenapa pada photo mahasiswa-mahasiswa di Imperial College of Engineering bukan photo Rancho melainkan foto orang lain yaitu orang yang sekarang menceritakan tentang Rancho teman Raju dan Farhan. Ranho pun sekarang memulai hidup baru dengan menjadi guru di Ladakh.

Keadaan semakin membingungkan setelah Raju dan Farhan mengertahui cerita tersebut. Mereka menculik Pia yang hendak menikah dengan orang lain. Pia pun ikut serta dalam pencarian Rancho yang menghilang tanpa jejak, karena ia sangat mencintainya. Sesampainya di Ladakh, mereka mendapati sekelompok anak Ladakh sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan, sementara Chatur hanya mencela bahwa Rancho hanya menjadi seorang guru, bukan pebisnis terkenal. Sampai-sampai hal ini membuat Raju dan Farhan marah, kemudian memplester mulut Chatur dan meletakkannya di belakang jok mobil. Sementara, Pia berharap Rancho palsu akan kembali bisa menyalakan api cinta mereka yang selama ini terpendam.

Setelah bertanya keberadaan Rancho palsu, akhirnya mereka menemukannya sedang bermain dengan anak-anak. Setelah Pia mengetahui cerita dari Rancho palsu mengenai perjanjiannya dengan keluarga tersebut. Pia pun mengerti. Tidak lama, Farhan dan Raju datang, memukuli Rancho palsu. Sampai akhirnya mereka berpelukan karena rindu. Raju dan Farhan kemudian bertanya tentang nama asli Rancho. Rancho menjawab, Phunsukh Wangru. Pia terkejut dan berkata Wangru pemilik paten itu, yang sekarang di kejar-kejar pengusaha dari jepang untuk bekerja sama?

Chatur datang terakhir, menertawakan Rancho yang sekarang tidak menjadi apa-apa dan sesukses dirinya. Bahkan ia menuduh Rancho mengambil pulpen milik Viru, kemudian pergi seolah-olah ia adalah pemenangnya. Setelah agak jauh ia menelepon Chatur, dan dia berbicara sangat sopa. Kemudian Rancho palsu alias Wangru, mengatakan kepada Chatur : “Bagaimana saya bisa menandatangani kesepakatan kita, jika pulpen saya anda ambil”. Chatur terkejut dan berbalik arah memohon maaf atas kekeliruannya. Sementara hanya di balas tawa oleh Wangru, Pia, Farhan dan Raju.

Saya memilih film ini karena banyak pelajaran yang bisa diambil, baik dari segi pendidikan, kreatifitas, maupun rasa simpatik seseorang terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun. Film 3 idiot ingin menunjukkan bagaimana cara belajar yang menyenangkan dan jangan menjadikan belajar itu menjadi sebuah beban. Selain itu juga membantu seseorang melihat hal yang dia sukai agar lebih dieksplor lagi. Terutama bagi orang yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, agar jangan salah memilih jurusan dan akhirnya pada saat bekerja nanti perkuliahan yang telah ditempuh beberapa tahun tidak dapat dipergunakan.

Pelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah jangan takut menentang sesuatu hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dan yakin tetap memperjuangkannya selama kita yakin bahwa kita benar.

Leave a comment »

Teknik Terapi Menurut Aliran Psikoanalisis dan Humanistik

Teknik Terapi Menurut Aliran Psikoanalisis

Dalam psikoanalisis terdapat 5 teknik terapi psikoanalisis, yaitu :
1. Asosiasi Bebas, merupakan teknik sentral dari psikoanalisis. Esensinya adalah bahwa klien melaju bersama pikirannya ataupun pendapat dengan jalan serta melaporkannya tanpa ada sensor. Asosiasi merupakan salah satu dari peralatan dasar sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan,konflik,serta motivasi yang tidak disadari. (Corey, 1995; 174)
2. Interpretasi, terdiri dari apa yang oleh penganalisis dinyatakan, diterangkan, dan bahkan diajarkan kepada klien arti dari perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, penentangan dan hubungan teraupetik itu sendiri. Fungsinya adalah memberi peluang kepada ego untuk mengasimilasikan materi baru dan dan untuk mempercepat proses menguak materi diluar kesadaran selanjutnya (Corey, 1995; 174)
3. Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk bisa mengungkapkan materi tidak disadari dan untuk bisa memberi klien suatu wawasan ke dalam kawasan problem yang tak terselesaikan (Corey, 1995; 175)
4. Analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensinya konselor meminta klien menafsirkan resistensi (Willis, 2004: 63).
5. Analisis transferensi. Konselor mengusakan klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neorosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar terungkap transferensi tersebut (Willis, 2004: 63)

Teknik Terapi Menurut Aliran Humanistik

Dalam humanistik terdapat teknik terapi yang disebut dengan client centred. Pendekatan client centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dam fenomenalnya. Pendekatan client centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan client untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapiutik antara terapis dan client merupakan katalisator bagi perubahan.
Menurut Roger, Konseling dan Psikoterapi tidak mempunyai perbedaan. Konseling yang berpusat pada klien sebagai konsep dan alat baru dalam terapi yang dapat diterapkan pada orang dewasa, remaja, dan anak-anak.
Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.

Diambil dari berbagai sumber

Leave a comment »

Psikoterapi

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.

Psikoterapi diberikan oleh psikolog kepada kliennya saat klien tersebut berkonsultasi. Psikoterapi berfungsi untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan klien. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, bahkan phobia sekalipun, seperti memulai memasuki perkuliahan, masalah dalam keluarga atau phobia terhadap sesuatu ( seperti ketinggian dan ketakutan terhadap binatang tertentu).

Menurut Carl Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini juga digunakan untuk orang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Menurut pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif (pemeliharan dan pengembangan jiwa yang sehat).

Psikoterapi dapat berupa terapi humanistik (mendukung betapa agungnya manusia ini, betapa berharganya manusia ini dan beraktulisasi diri), terapi dapat berupa terapi dari frued seperti psikoanalisa yang berupa analisa mimpi dan asosiasi bebas, terapi behavioristik (punisment and reward).
untuk mengubah kebiasaan hidup atau trauma memang lebih bagus menggunakan hipnoterapi atau terapi zaman modern yang sedang berkembang untuk saat ini. Terapi juga bertujuan untuk mengubah mindset dan menggali alam bawah sadar menjadi sadar.

Psikoterapi sangat berguna untuk:
1. Membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, memberi perspektif masa depan yang lebih cerah.
2. Membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi, dan
3. Membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan pengobatannya.

Atkinson mengemukakan enam teknik psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog, antara lain :
• Teknik Terapi Psikoanalisa
• Teknik Terapi Perilaku
• Teknik Terapi Kognitif Perilaku
• Tenik Terapi Humanistik
• Teknik Terapi Eklektik atau Integratif
• Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga

Sumber :
http://belajarpsikologi.com/sebuah-pengantar-psikoterapi/
http://www.scribd.com/doc/54765094/pengertian-psikoterapi

Leave a comment »

Keluhan Tugas Paper – Psikologi Lintas Budaya

Keluhannya, subjek yang pertama terlalu tertutup membuat saya sebagai interviewer bingung dalam mewawancarainya, sehingga banyak probing yang dilakukan dalam sesi wawancara. dan dalam tugas paper banyak pendapat tentang cara pengerjaannya, sehingga saya dan kelompok saya sempat  salah dalam mengerjakannya.

Leave a comment »

Psikologi Lintas Budaya (Kebudayaan Indis)

PENDAHULUAN

Sebutan Indis berasal dari istilah Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda dalam bahasa Indonesia. Itulah nama suatu daerah jajahan Pemerintah Belanda di Timur Jauh, dan karena itu sering disebut juga Nederlandsch Oost Indie. Orang Belanda pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1619. Mereka semula berdagang tetapi kemudian memonopoli lewat VOC dan akhirnya menjadi penguasa sampai datangnya Jepang pada tahun 1942. Kehadiran orang-orang Belanda selama tiga abad di Indonesia tentu memberi pengaruh pada segala macam aspek kehidupan. Perubahan antara lain juga melanda seni bangunan atau arsitektur.
Pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya. Sebutannya landhuiz, yaitu hasil perkembangan rumah tradisional Hindu-Jawa yang diubah dengan penggunaan teknik, material batu, besi, dan genteng atau seng. Arsitek landhuizen yang terkenal saat itu antara lain Wolff Schoemaker, DW Berrety, dan Cardeel.
Dalam membuat peraturan tentang bangunan gedung perkantoran dan rumah kedinasan Pemerintah Belanda memakai istilah Indische Huizen atau Indo Europeesche Bouwkunst. Hal ini mungkin dikarenakan bentuk bangunan yang tidak lagi murni bergaya Eropa, tetapi sudah bercampur dengan rumah adat Indonesia.
Di Surabaya, bangunan tersebut nampak pada gedung-gedung cagar budaya yang sebagian besar terdapat di wilayah Surabaya bagian Utara. Misalnya gedung tinggi nan kokoh yang sekarang digunakan sebagai Bank Mandiri, kawasan Pabean, dah kompleks wahana pemerintahan, seperti kediaman gubernur dan hotel. Hala ini pun sebenarnya terlihat di beberapa kota besar lainnya, seperti Jakarta dan Semarang. Umumnya bangunan tersebut tinggi dan memiliki banyak jendela. Demikian juga di kota Malang yang memiliki arsitektur dan pengaruh budaya insdies yang kuat.
Pengaruh budaya Barat terlihat pada pilar-pilar besar, mengingatkan kita pada gaya bangunan Parthenon dari zaman Yunani dan Romawi. Lampu-lampu gantung dari Italia dipasang pada serambi depan membuat bangunan tampak megah terutama pada malam hari. Pintu terletak tepat di tengah diapit dengan jendela-jendela besar pada sisi kiri dan kanan. Antara jendela dan pintu dipasang cermin besar dengan patung porselen. Khusus untuk gedung-gedung perkantoran, pemerintahan, dan rumah-rumah dinas para penguasa di daerah masih ditambah lagi dengan atribut-atribut tersendiri seperti payung kebesaran, tombak dan lain-lain agar tampak lebih berwibawa.

Tinjauan Pustaka
Teori Kebudayaan Indis
Mengambil periodisasi perkembangan kebudayaan Indonesia di Jawa pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-20, buku ini mengulas rinci proses pembentukan kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan dan gaya hidup Indis. Dalam buku ini dibahas antara lain tentang bahasa Indis, pakaian, arsitektur, alat transportasi, hingga mata pencaharian kelompok masyarakat ini. Penulis memfokuskan pada perpaduan budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur, khususnya budaya Jawa. Pertukaran terjadi dalam beberapa bentuk dalam matriks, anatara lain, pertukaran langsung, pertukaran tergeneralisasi dan pertukaran produktif. Dalam pertukaran langsung (Direct Exchange), timbal balik dibatasi pada kedua aktor yang terlibat. Pertukaran tergeneralisasi (Generalized Exchange) melibatkan timbale balik yang bersifat tidak langsung. Seseorang memberikan kepada orang lain, dan penerima merespon tetapi tidak kepada orang pertama.akhirnya, pertukaran dapat bersifat produktif, yaitu kedua aktor harus saling berkontribusi agar keduanya memperoleh keuntungan.
Budaya Indis Dan Stratifikasi Sosial
Sentuhan pertama yang terjadi antara bangsa Indonesia dan bangsa Belanda terjadi ketika ekspedisi Cornelis de Houtman berlabuh di pantai utara Jawa guna mencari rempah rempah. Pada perkembangan selanjutnya terjadi hubungan dagang antara bangsa Indonesia dengan orang orang Belanda. Hubungan perdagangan tersebut lambat laun berubah drastis menjadi hubungan antara penjajah dan terjajah, terutama setelah didirikannya VOC. Penjajahan Belanda berlangsung sampai tahun 1942, meskipun sempat diselingi oleh Inggris selama lima tahun yaitu antara 1811-1816. Selama kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun bangsa Belanda telah memberi pengaruh yang cukup besar terhadap kebudayaan Indonesia.
Kolonialisme Belanda di Indonesia depat dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu :
(1). Fase antara 1602-1800 : yaitu fase ketika Belanda dengan VOC menggalakkan handels kapitalisme.
(2). Fase antara 1800-1850 : fase ini diselingi oleh penjajahan Inggris, pada masa ini Belanda menciptakan dan melaksanakan cultuurstelsel.
(3). Fase antara 1850-1870 ; cultuurstelsel dihapus diganti oleh politik liberal kolonial.
(4). Fase setelah 1800 : makin bertambah perusahaan asing yang ada di Indonesia akibat politik open door negeri Belanda.
pada kebudayaan Indonesia, baik yang bersifat rohani, maupun yang terkait dengan produk fisik kebudayaan. Menurut Raymond Kennedy kolonialisme Belanda memiliki ciri ciri pokok sebagai berikut:
(1). Membeda-bedakan warna kulit (color line).
(2). Menjadikan tempat jajahan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi negara induk.
(3). Perbaikan sosial sedikit.
(4). Jarak sosial yang jauh antara bangsa terjajah dengan penjajah.
Dari ciri ciri pokok di atas poin pertama dan poin keempat tercermin dalam stratifikasi sosial yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Stratifikasi sosial tersebut sebagai berikut :
(1). Golongan pertama : orang Belanda dan orang asing ( kulit putih).
(2). Golongan kedua : orang timur asing.
(3). Golongan ketiga : orang pribumi. Pembedaan golongan kelas sosial berdasar warna kulit tersebut diikuti dengan pembedaan hak dan kewajiban yang diterima. Hal ini berujung untuk menjaga prestise pemerintah kolonial dengan menciptakan superioritas orang kulit putih dan inferioritas pribumi.
Masyarakat Jawa sebelum masa kolonial Belanda, telah memiliki stratifikasi sosial secara tradisional. Stratifikasi sosial tersebut menggunakan ukuran kedudukan jabatan di pemerintahan. Stratifikasi sosial masyarakat Jawa sebelum kolonial sebagai berikut :
(1). Raja sebagai puncaknya.
(2). Keluarga raja / bangsawan.
(3). Pejabat tinggi, pembantu pribadi / pengikut raja.
(4). Kaum rohaniawan.
(5). Pejabat rendahan. Secara umum status sosial tertinggi dimiliki oleh raja dan bangsawan / keturunan raja, kemudian pejabat sipil, militer, agama, kehakiman, kecuali ulama istana, golongan tersebut yang disebut matri.
Ada pemisahan antara stratifikasi sosial di pemerintahan pusat dengan di daerah. Pemuka daerah dipandang lebih rendah kedudukannya dengan pejabat di luar pemerintahan. Stratifikasi sosial di daerah terdiri dari :
(1). Akuwu dan anden merupakan golongan tertinggi.
(2). Pemuka agama.
(3). Petani.
(4). Hamba sahaya. Secara umum kedudukan seseorang dalam masyarakat Jawa tradisional diukur dengan dua kriteria :
(1). Prinsip kebangsawanan yang berakar dari hubungan darah dengan orang yang memiliki jabatan di pemerintahan.
(2). Prinsip kebangsawanan yang didasarkan dari posisi dalam hierarki birokratis.
Orang yang memiliki status sosial akibat adanya hubungan darah dipandang kedudukannya lebih tinggi dari yang didasarkan dari posisinya dalam hierarki birokratis. Hal ini kemudian ditunjukkan dengan tingkat gelar serta nama kedudukannya. Orang orang yang memiliki status kebangsawanan tersebut merupakan kaum priyayi. Priyayi adalah kaum elit yang secara tradisional, memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari rakyat biasa.
Pada masa peralihan dari kekuasaan feodal menjadi kekuasaan kolonial menghilang. Hal ini karena kehidupan sosio-ekonomi masyarakat Jawa tidak mengalami perubahan yang fundamental. Namun status sosial bangsa Indonesia yang dibawah bangsa asing baik kulit putih maupun timur asing memberi dampak pada stratifikasi sosial tradisional masyarakat Jawa. Adanya warna kulit yang menjadi ukuran status sosial menjadikan Bangsa Belanda posisinya di atas pribumi, termasuk raja. Meskipun raja dan keluarganya masih ditempatkan di atas bangsa timur asing. Ukuran warna kulit menjadikan bangsa Belanda yang golongan kecil tetapi memiliki hak istimewa ditempatkan di atas pribumi yang mendapat jabatan di atas pribumi yang harus diangkat berdasar keahlian.
Meskipun raja dan keluarganya di tempatkan di atas bangsa timur asing, priyayi tetap berada dibawah kaum timur asing termasuk golongn pribumi. Masyarakat tradisional Jawa sendiri terbagi menjadi dua yaitu : priyayi dan rakyat biasa atau wong cilik. Priyayi merupakan orang yang berkelas tinggi yang merupakan golongan elit masyarakat Jawa, yang dapat diukur dari tiga aspek :
(1). Tradisional : pegawai istana sultan.
(2). Kolonial : pengelola kantor pribumi.
(3). Keturunan : gelar priyayi meski bukan pegawai pemerintah.
Pada masa kolonial Belanda ukuran untuk disebut sebagai priyayidigunakan ukuran pekerjaan dan keturunan. Dan pada masa itu untuk golongan pekerjaan tertentu yang ukurannya tinggi bagi pribumi tidak dapat sembarang orang menduduki. Misalnya, pengangkatan seorang pegawai tingkat wedana ke atas digunakan asas keturunan. Hanya keturunan wedana ke atas yang dapat menduduki. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat menjadi priyayi.
Golongan priyayi pada masa kolonial Belanda yang didasarkan pada jabatan kepegawaian status sosialnya sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan. Makin tinggi jabatan makin tinggi status sosialnya, baik dalam tataran pribumi secara umum maupun dalam kelompok priyayi. Perbedaan status sosial antar kaum priyayi dibagi sebagai berikut :
(1). Pangreh praja /pejabat pemerintah daerah. Tertinggi bagi priyayi, diukur dari sifat kebangsawanan.
(2). Bukan pangreh praja : golongan terpelajar dari golongan tiyang alit (wong cilik) yang medapat kedudukan dari pendidikan.
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di propinsi Jawa Timur yang telah lama berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Pada zamannya, perencanaan kota Malang sering disebut sebagai salah satu hasil perencanaan kota kolonial yang terbaik di Hindia Belanda. Kota Malang yang kita huni didesain dengan konsep arsitektur kolonial, yang karena nilai estetis dan historisnya yang tinggi patut untuk dipertahankan.
Salah satu sebab mengapa warisan arsitektural dari masa itu yang berupa bangunan kolonial masih dapat dinikmati oleh masyarakat modern adalah karena kekhasan bentuk bangunannya. Para arsitek Belanda yang merancang bangunan-bangunan kolonial di Indonesia pada era 1910-an hingga 1940-an telah berhasil memadukan arsitektur Eropa, khususnya Belanda, dengan teknologi bangunan daerah tropis. Bangunan-bangunan tersebut tetap memiliki gaya Eropa, namun tetap sesuai untuk dihuni di daerah tropis.
Keunikan bangunan inilah yang membedakan bangunan kolonial Belanda dengan bangunan lainnya. Pada bangunan kolonial, terdapat berbagai ciri-ciri khusus yang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya, terutama pada fasade bangunan yang terlihat pertama kali oleh pengunjung.
Kota Malang telah dikuasai Belanda sejak tahun 1767, namun baru berkembang pesat pada awal abad ke-20. Perkembangan yang pesat dalam perencanaan perluasan kota Malang sangat dipengaruhi dari berdirinya Gemeente Malang pada 1 April 1914 dibawah pimpinan walikota pertama, H.I Bussemaker. Perencana utama perkembangan kota Malang pada masa itu adalah Ir. Herman Thomas Karsten, dengan memperhatikan aspek kenyamanan view yang berorientasi pada pemandangan gunung-gunung sekitar kota Malang.
Rencana kota Malang 1920, yang dibuat oleh Ir Thomas Kartsen, merupakan fenomena baru bagi perencanaan kota-kota di Indonesia, kaidah-kaidah perencanaan modern telah memberikan warna baru bagi bentuk tata ruang kota, seperti penggunaan pola boullevard, bentuk-bentuk simetri yang menonjol dan sangat disukai pada periode renaisance.
Bentuk dan tata ruang pusat kota yang terbentuk pada masa pemerintahan Belanda, yang lebih ditujukan bagi kepentingan politis pemerintahan belanda (mengutamakan masyarakat Belanda), ternyata telah menghasilkan bentukan morfologi kota yang cenderung meniru bentuk-bentuk arsitektur gaya Eropa seperti Art Deco, Renaisance, Baroqe dan sebagainya. Dalam konteks historis sebenarnya keberadaan bangunan peninggalan Belanda merupakan potensi (asset) yang dapat dikembangkan bagi perkembangan arsitektur kota Malang. Melalui aturan-aturan produk kolonial, ternyata telah memberikan warna pada bentukan fisik lingkungan baik gaya arsitektur maupun pola-pola tata ruang yang terbentuk.
Meskipun gaya arsitektur yang ditunjukkan masih banyak dipengaruhi gaya arsitektur Belanda, tapi pada umumnya bentuk arsitektur bangunan sudah beradaptasi dengan iklim setempat. Hal ini dapat terlihat dari bentuk denah dengan menempatkan galery keliling bangunan dengan maksud supaya sinar matahari langsung dan tampias air hujan tidak langsung masuk jendela atau pintu. Adanya atap susun dengan ventilasi atap yang baik serta overstek yang cukup panjang untuk pembayangan tembok.
Contoh bangunan kolonial Belanda adalah :
(a) Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia disebelah utara alun-alun dibangun tahun 1915).
(b) Palace Hotel (sekarang hotel Pelangi terletak di sebelah selatan alun-alun dibangun tahun 1916).
(c) Kantor Pos dan Telegram (sekarang sudah dibongkar terletak di Jalan Basuki Rahmat dibangun antara tahun 1910-an).
Menurut Handinoto dalam buku Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda 1870-1940, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis basah Indonesia. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah suatu bentuk khas.
Kekhasan tersebut terletak pada :
(a) Penggunaan Gewel (Gable) pada tampak depan bangunan. Gewel adalah bagian berbentuk segitiga dari bagian akhir dinding atap dengan penutup atap yang melereng.
(b) Penggunaan tower pada bangunan. Tower adalah bangunana berstruktur tinggi, dapat berdiri sendiri maupun menjadi bagian dari bangunan dengan penerangan dan peralatan internal seperti tangga, dan atap yang jelas. Di Indonesia biasanya membuat tower yang ujungnya diberi atap menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada awal abad ke-20. (c) Penggunaan dormer pada atap bangunan Dormer adalah jendela atau bukaan lain yang terletak pada atap yang melereng dan memiliki atap tersendiri. Bingkai dormer biasanya diletakkan vertikal diatas gording pada atap utama.
Pengaruh Eropa mendominasi bangunan-bangunan tersebut khususnya bangunan arsitektur kolonial Belanda, perlu diperhatikan bahwa aspek iklim tropis selalu dipertimbangkan dalam desain bangunan Belanda. Hal itu dapat dilihat pada atap dengan sudut kemiringan yang besar, ventilasi yang baik dan jarak antara lantai dan langit-langit yang tinggi. Teras depan dan teras belakang yang umum ditemukan pada sebagian besar bangunan kolonial Belanda memiliki beberapa fungsi: koridor, ruang antara dari lingkungan luar dengan lingkungan dalam serta isolator panas. Teras ini juga identik dengan Peringgitan dalam rumah joglo di Jawa.

PEMBAHASAN
Awal Kehadiran Orang Belanda
Pada awal kehadiran belanda, VOC mendirikan gudang-gudang untuk meninbun barang dagangan yang berupa rempah-rempah yang berlokasi di banten, jepara, jayakarta. Gudang ini pula berfungsi sebagai kantor dagang dan memperkuatnya sebagai benteng pertahanan dan tempat tinggal. Gudang sekaligus benteng pertahanan tersebut di bangun di tepi timur kali ciliwung.
Kehadiran orang belanda di indonesia yang kemudian menjadi penguasa mempengaruhi gaya hidup, bentuk bangunan rumah tradisional serta fungsi ruangannya serta alat perlengkapan tradisional daerah jawa juga mengalami perubahan.
Dengan demikian kebudayaan barat (belanda) dalam hal gaya hidup berumah tangga seharihariserta ketujuh universal kebudayaan yaitu bahasa, peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, kesenian, ilmu pengetahauan dan religi ikut terpengaruh pula. tujuh unsur universal budaya yang merupakan campuran unsur budaya belanda dan pribumi inilah yang di sebut kebudayaan indis. Istilah indis di kenal luas oleh masyarakat dengan berdirinya partai-partai politik seperti indische partij yang di dirikan oleh douwes dekker, tjipto mangun kusumo, dan suwardi suryaningrat pada 1912.
Sebagai fenomena historis, gaya hidup dan budaya indis sangat erat hubungannya dengan faktor politik kolonial. Dalam membahas kebudayaan indis, penelaahan hubungan antar bangsa belanda dan jawa secara berlebih mendalam sangat di perlukan mengingat kedua budaya saling tergantung dan saling menghidupi. Perekmbangan kebudayaan indis berakhir bersamaan dengan runtuhnya kekuasan hindia belanda ketangan kekuasaan balatentara jepang selama 3,5 tahun.
Masyarakat Pendukung Kebudayaan Indis
Sejak abad ke 18 sampai awal abad 20 muncul golongan sosial baru sebagai pendukung kuat kebudayaan campuran (belanda-jawa ) di daerah jajahan hindia belanda. Hal itu di sebabkan oleh besarnya pengaruh kebudayaan belanda di pulau jawa. Burger menyebutkan ada 5 golongan masyarakat baru di atas desa yaitu:
1. golongan pamongpraja bangsa belanda
2. golongan pegawai indonesia baru
3. golongan pengusaha partikelir eropa
4. golongan akademisi indonesia (sarjana hukum, insinyur, dokter, guru, ahli pertanian, dan ilmu-ilmu lainnya)
5. golongan menengha indonesia yaitu para pengusaha indonesia yang mempunyai usaha di bidang perniagaan dan kerajinan.Golongan yang terakhir ini merupakan golongan orang kaya baru tapi justru kurang di anggap oleh golongan di atasnya, para bangsawan jawa justru memperlakukannya sebagai wong cilik.
Dalam proses akulturasi dua kebudayaan tersebut peran penguasa kolonial di hindia belanda sangat menentukan dan bangsa indonesia menerima nasib sebagai bangsa terjajah serta menyesuaikan diri sebagai aparat penguasa jajahan / kolonial. Hasil perpaduan menunjukkan bahwa ciri-ciri barat (eropa) tampak lebih menonjol dan dominan.Sejak akhir abad ke 18 sampai awal abad 20 bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa belanda. Pembauran ini berawal dari bahasa komunikasi yang di gunakan oleh keluarga dalam lingkungan ” indische landshuizen” yang selanjutnya di gunakan oleh golongan indo-belanda. Bahasa ini kemudian berkembang di batavia. Di jawa tengah dan jawa timur proses perpaduan belanda dan jawa terjadi hanya pada sebagian masyarakat pendukung kebudayaan indis. Proses ini menibulkan bahasa pijin/ campuran yang pada umumnya di gunakan oleh orang-orang keturunan belanda dengan ibu jawa oleh cina keturunan dan timur asing..
Enkulturasi adalah suatu proses pembentukan budaya dari dua bentuk kelompok budaya yang berbeda sampai munculnya pranata yang mantap.
Dalam pembahasan kajian teologis, enkulturasi religi di artikan sebagai rancang bangun teologi lokal. Enkulturasi religi sebagi rancang bangun lokal di sebut inkulturasi. Keberhasilan inkulturasi tidak hanya berdampak pada munculnya kesinambungan budaya dan agama ttapi berdampak pada munculnya kestabilan idiologi, politik dan sosial sejalan dengan kondisi zaman penjajahan.
Gaya Hidup Masyarakat Indis
Gaya hidup semacam di landhuizen itu tidak dikenal di negeri Belanda. Lama-kelamaan kota-kota pionir macam Batavia, Surabaya, dan Semarang yang terletak di hilir sungai dianggap kurang sehat karena dibangun di atas bekas rawa-rawa. Mereka kemudian memindahkan tempat tinggalnya ke permukiman baru di daerah pedalaman Jawa, yang dianggap lebih baik dan sehat. Di sini mereka mendirikan rumah tempat tinggal dan kelengkapannya yang disesuaikan dengan kondisi alam dan kehidupan sekeliling dengan mengambil unsur budaya setempat. Pertumbuhan budaya baru ini pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao.
Konsep Indis di sini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda) dengan Jawa sejak abad XVIII sampai medio abad XX. Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yang jauh berbeda itu makin kental. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan Timur (Jawa), yang berbeda etnik dan struktur sosial membaur jadi satu.Golongan masyarakat atas adalah pendukung utama kebudayaan Indis. Dalam membangun rumah tempat tinggal gaya Indis, golongan pengusaha atau pedagang berperan cukup besar, misalnya mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta), dan Kotagede (Yogyakarta). Pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Ada pun grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan. Telundak untuk santaiRumah-rumah mewah milik para pejabat tinggi VOC menjadi pioner berkembangnya kebudayaan Indis. Pembangunan rumah pesanggrahan oleh para pembesar kompeni misalnya, diawali dengan mendapatkan sebidang tanah berupa hutan. Semula mereka mendapatkan hak milik dari penguasa tertinggi Hindia Belanda. Rumah dan gereja kecil di Depok, misalnya, pembangunannya diprakarsai sendiri oleh Chastelijn, pemiliknya. Rumah dan kebun tuan tanah Materman (yang kini mengingatkan nama daerah Matraman), dilaksanakan oleh tuan tanahnya sendiri. Rumah tempat tinggal Belanda masa awal di Jawa mempunyai susunan khas mirip dengan yang ada di negeri asalnya.
Di lain sisi rumah mewah dan rumah tinggal di luar benteng dibangun dalam lingkungan alam dunia Timur, atau Jawa. Sehingga hasil akhirnya adalah bentuk campuran, yakni tipe rumah Belanda dengan bentuk rumah pribumi Jawa. Rumah-rumah bergaya Indis. Bangunan rumah mewah semula dipergunakan oleh orang-orang Belanda sebagai tempat tinggal di luar kota, yang kemudian juga didirikan di wilayah-wilayah baru di Batavia. Corak bangunan rumah tinggal demikian ini mirip dengan rumah para pedagang kaya di kota lama Baarn atau Hilversum, Belanda. Ciri menonjol pada rumah-rumah Belanda di Batavia ialah adanya telundak (semacam teras) yang lebar. Telundak yang luas itu bukan sekadar sebagai bagian dari sebuah bangunan rumah, tetapi mempunyai arti dan kegunaan khusus, sebagai sarana hubungan sosial. Telundak menjadi tempat bertemu yang ideal antarkeluarga dan tetangga. Telundak yang lebar ini kebanyakan digunakan untuk duduk santai dan menghirup udara segar di sore hari. Pada masa berikutnya, pada sudut-sudutnya ditaruhkan bangku. Sebuah pagar rendah dibuat untuk memisahkan dari trotoar jalan, yang lalu dihilangkan guna mendapatkan ruang yang lebih luas.
Gaya hidup dan bangunan rumah Indis pada tingkat awal cenderung banyak bercirikan budaya Belanda. Hal ini terjadi karena para pendatang bangsa Belanda pada awal datang ke Indonesia membawa kebudayaan murni dari Belanda. Pengaruh afektif kebudayaan Belanda yang sangat besar lambat laun makin berkurang, terutama setelah anak keturunannya dari hasil perkawinan dengan bangsa Jawa makin banyak.Perkawinan di antara mereka melahirkan masyarakat Indo. Mereka menyadari akan perlunya kebudayaan Belanda untuk tetap diunggulkan sebagai upaya untuk menjaga martabat sebagai bangsa penguasa. Masyarakat Indo dan para priyayi baru ini masih tetap menganggap perlu tetap adanya budaya masa lampau yang dibanggakan. Mereka menganggap perlunya menggunakan budaya Barat demi karier jabatan dan prestisenya dalam hidup masyarakat kolonial. Hal semacam ini tampak, misalnya dalam cara mereka bergaul, dalam kegiatan hidup sehari-hari, seperti menghargai waktu, cara dan disiplin kerja, dsb.
Lingkungan Permukiman Masyarakat Eropa, Indis dan Pribumi
A. Sumber – sumber tentang Pola Lingkungan Permukiman
Pola permukiman, bentuk rumah tinggal tradisional dan bangunan rumah tinggi gaya Indis tercatat dalam berbagai sumber. Sumber yang paling banyak adalah berita tulis buah karya orang jawa, belanda (Eropa) serta orang asing lainnya. Selain itu, terdapat peninggalan bangunan yang hingga saat ini masih ada dan digunakan sebagai tempat tinggal atau keperluan lain. Sumber lain yang juga dapat digunakan sebagai sumber berita ialahhasil karya yang berupa lukisan, skets dan graver buah karya para musafir, peneliti alam, pejabat VOC dan dokumentasi pemerintah kolonial. Setelah dikenal pengguanaan alat pemotretan, hasil fotografi merupakan sumber berita penting yang dapat digunakan untuk melengkapi sumber – sumber tersebut.
1. Berita dari Karya Tulis
Berita tertulis tentang wilayah pemukiman yang kemudian berkembang menjadi kota, sudah lama dikenal sebelum ada abad ke -19. dalam disertasi FA. Soetjipto tentang kota – kota pantai disekitar Selat Madura terdapat informasi tentang sumber – sumber berita tertulis Pribumi, antara lain berupa babad, kidung maupun serat, baik yang maih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak dengan jumlah cukup banyak. Karya – karya tulis ini banyak ditulis didaerah pantai (pesisir) dan pedalaman Pulau Jawa.
Manuskrip tersebut antaralain Babad Negeri Semarang, Babad Tuban,Babad Gersik, Babad Blambangan, Babad Kitho Pasoeroean, Babad Lumajang dan Babad Banten. Yang berupa cerita perjalanan R.M. Poerwolelono. Kitab – kitab tersebut memberitakan dan menerangkan berbagai aspek kehidupan suku jawa,dan secara tidak langsung juga memberitakan tentang kota, rumah, adat, sejarah dan sebagainya.
Menggunakan sumber – sumber berupa babad, serat atau cerita perjalanan seperti tersebut di atas memerlukan ketelitian dan sikap kritis dalam memahaminya karena kitab – kitab tersebut memang tidak dimaksudkan sebagai karya sejarah, tetapi lebih bersifat karya sastera.
2. Sumber Tertulis dari Bangsa Eropa
Sumber tertulis tentang Pulau Jawa yang berupa cerita atau laporan perjalanan sudah ditulis pada abad ke-18 dan abad ke-19 cukup banyak, antara lain berupa Rapporten, Missiven, Memories van Overgave (naskah serah terima jabatan). Reis bechrijvingen (catatan perjalanan), Daaghregisters (catatan harian Kompeni di Batavia) dan Contracten (naskah – naskah perjanjian antara Kompeni dan kelapa – kelapa bangsa Pribumi).

Manuskrip yang berupa berita tentang kota dan kehidupan masyarakatnya pada abad ke-18 dan abad ke-19 banyak ditulis dalam kisah perjalanan di Hindia Belanda, khususnya Jawa. Karya dari pengalamn pribadi itu sangat mengasyikan untuk dibaca untuk menambah wawasan gambaran hidup sezaman yang meliputi tujuh unsur pokok universal kebudayaan indis di Jawa.
3. Berita Visual
Berita visual berasal dari karya lukisan, sketsa, grafis dan potrer. Selain berita dari karya – karya tulis yang sudah disebutakan pada sub-bab sebelumnya, penggambaran kota, permukiman dan perumahan dapat juga diikut secara visual lewat lukisan para pelukis Eropa yang datang ke Indonesia. Lukisan yaitu suatu lukisan dengan teknik encreuk relief yang dipahatkan pada lempengan tembaga atau perunggu sangat populer. Dalam melukis, pelukis antara lain menggunakan cara penglihatan mata burung (vogel vlucht). Karya – karya itu dilukis oleh para pelukis yang mengikuti perjalanan, pelayaran atau ekspedisi. Karya mereka berupa lukisan kota – kota pantai, seperti Batavia, Jepara, Banten, Gersik dan sebagainya.
4. Karya Berupa Fotografi
Karya berupa fotografi sangat banyak tersimpan di gedung KITLV Laiden dan berbagai museum Belanda. Menurut Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia di Pejaten (Jakarta), disebut oleh direkturnya, tersimpan tidak kurang dari 1.000.600 buah foto dari masa sebelum Perang Dunia II.
Sejak kehadiran kapal – kapal dagang Belanda pertama kedunia Timur, mereka sudah membawa serta para pelukis. Hasil lukisan mereka terutama digunakan untuk kelengkapan laporan kepada Heeren Zeventien di Belanda. Ada lukisan yang dimaksudkan sebagai kenang – kenangan atau sebagai hadiah keluarga. Ada pula yang dimaksud untuk diperjualbelikan. Objek lukisan ialah keadaan negeri – negeri yang dikunjungi, seperti kota – kota pantai, kehidupan masyarakat sehari – hari, adat-istiadat, rumah tempat tinggal dan sebagainya. Banyak di antara lukisan yang dihasilkan menunjukan kekayaan, kebesaran dan kekuasaanpara raja di berbagai negara yang disinggahi kapal – kapal VOC tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pelukis dan awak kapal Inggris dan Prancis yang mengunjungi Hindustan dan Persia
B. Mengamati Seni Bangunan Rumah dari Hasil Karya Seni Lukis, Pahat, Foto dan Karya Sastera
Mengenal kembali sesuatu hasil seni bangunan rumah dari silam yang umumnya sudah rusak merupakan hal yang menarik. Menarik karena materialnya yang lapuk dimakan zaman, diubah bentuknya atau dirombak karena tidak sesuai lagi dengan selera zaman, kecuali dari banguan aslinya atau reruntuhan yang ada, dapat pula melalui benda – benda lain. Adapun benda – benda lain berupa karya lukis, karya sastera, foto gravir. Sketsa, relief atau bend lain seperti maket yang dibuat oleh museum atau lembaga – lembaga penelitian.sebagai contoh, tentang bentuk bangunan rumah Jawa zaman Majapahit atau zaman Jawa Hindu, orang dapat melihatnya dari gambar relief candi atau hasil seni sastera sebagai Nagara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca.
Melalui karya seni lukis, foto gravir, relief dan karya sastera, kini orang dapat mengetahui hasil seni bangunan rumah dan perabotan milik bangsa Belanda dan anak keturunannya di Indonesia. Dengan demikian orang tidak harus selalu mencari banguan rumah aslinya, tetapi dapat pula melihatnya dari hasil – hasil karya seni lukis yang dilukis pada waktu bangunannya dalam keadaan utuh. Dalam seni lukis abad ke-17 sampai abad ke-19, sedikit sekali kemingkinan para pelukis memalsukan objek yang dilukis. Pendapat ini didasarkan atas beberapa alasan.
Pertama, para pelukis naturalis yang hidup pada abad ke-17 sampai abad ke-19 adalah pengikut yang terpengaruh oleh gaya terperiode Renaisans dan Barok. Pada masa itu “naturalisme” dan “akademisme” hidup dengan subur dikalangan seniman lukis Eropa. Dengan demikian, di dalam lukisan – lukisan seniman Belanda pada zaman ini besar sekali kemungkinannya bahwa apa yang dilukis benar – benar ada dan tepat sesuai dengan bangunan serta keadaan pada waktu itu. Sehingga dengan demikian, hasil karya lukis dari zaman itu bernilai setara dengan hasil pemotretan dengan foto kamera pada abad ke-20.
Kedua, beberapa penulisan dan pelukis lazim menggambarkan bangunan rumah serta pemandangan alam sekitarnya, misalnya rumah milik Groeneveld di Tanjung Timur (dilukiskan keindahanyan oleh penulis Johannes Oliver dan Roorda van Eysinga).
Ketiga, terdapat adanya suatu kebiasaan para pembesar VOC dan Hindia Belanda, terutama para gubernur jendral di Batavia dan para bangsawan kaya, meminta seniman melukis rumah tempat tinggaldan keluarga mereka sebagai kebanggan atau kenang – kenangan keluarga. Hal ini sama dengan orang dari abad sekarang yang memotret rumah dan keluarga untuk dipasang pada dinding rumah atau dikirim pada sanak keluarganya dengan maksud yang sama, yaitu sebagai kenangan atau pamer.
Ragam Hias Rumah Tinggal
Percampuran budaya Eropa (Belanda) dengan budaya lokal yang meliputi seluruh aspek tujuh unsur universal budaya, menimbulkan budaya baru yang didukung sekelompok masyarakat penghuni kepulauan Indonesia, yang disebut dengan budaya Indis. Budaya Indis kemudian juga ikut mempengaruhi gaya hidup masyarakat ditanah Hindia-Belanda. Gaya hidup Indis juga ikut mempengaruhi kehidupan keluarga pribumi melalui jalur-jalur formal, misalkan melaui media pendidikan, hubungan pekerjaan, perdagangan, dan lain sebagainya. Selain gaya hidup dengan berbagai aspeknya, bangunan rumah tinggal mendapat perhatian dalam perkembangan budaya Indis, karena rumah tempat tinggal merupakan ajang kegiatan sehari-hari.
Arsitektur Indis merupakan hasil dari proses akulturasi yang panjang. Akulturasi dirumuskan sebagai perubahan kultural yang terjadi melalui pertemuan yang terus-menerus dan intensif atau saling mempengaruhi antara dua kelompok kebudayaan yang berbeda. Dalam pertemuan ini dapat terjadi tukar-menukar ciri kebudayaan, yang merupakan pembauran dari kedua kebudayaan tersebut. Atau dapat juga ciri kebudayaan yang satu demikian dominannya, sehingga menghapus ciri kebudayaan dari kelompok yang lain. Meskipun demikian dalam penggunaannya akhir-akhir ini cenderung diartikan terbatas hanya pada pengaruh satu kebudayaan atas kebudayaan yang lain (unilateral). Misalkan dalam hal pengaruh kebudayaan modern terhadap kebudayaan primitif.
Proses tersebut bisa timbul bila ada ;
(i) golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda,
(ii) saling bergaul langsung secara intensif untuk jangka waktu yang relatif lama sehingga,
(iii)kebudayaan-kebudayaan dari golongan-golongan tadi masing-masing berubah saling menyesuaikan diri menjadi kebudayaan campuran. Proses yang timbul tersebut bisa terjadi jika terpenuhinya suatu prasyarat, yaitu bila terjadi saling penyesuaian diri sehingga memungkinkan terjadi kontak dan komunikasi sebagai landasan untuk dapat berinterkasi dan memahami diantara kedua etnis.
Keadaan alam tropis pulau Jawa menentukan dalam mewujudkan hasil karya budaya seperti bentuk arsitektur rumah tinggal, cara berpakaian, gaya hidup dan sebagainya. Wujud dari isi kebudayaan yang terjadi dalam proses akulturasi itu sekurang-kurangnya ada tiga macam, yaitu:
a) berupa sistem budaya (cultural system) yang terdiri dari gagasan, pikiran, konsep, nilai-nilai, norma, pandangan, undang-undang, dan sebagainya, yang berbetuk abstrak, yang dimiliki oleh pemangku kebudayaan yang bersangkutan merupakan ide-ide (ideas). Cultural System ini kiranya tepat disalin dalam bahasa Indonesia dengan “tata budaya kelakuan”.
b) berbagai aktivitas (activities) para pelaku seperti tingkah berpola, upacara-upacara yang wujudnya kongkret dan dapat diamati yang disebut social system atau sistem kemasyarakatan yang berwujud kelakuan.
c) berwujud benda (artifacts), yaitu benda-benda, baik dari hasil karya manusia maupun hasil tingkah lakunya yang berupa benda, yang disebut material culture atau hasil karya kelakuan.
Ciri-ciri Belanda pada bangunan rumah Indis pada tingkat awal bisa dimengerti karena pada awal kedatangannya mereka membawa kebudayaan murni dari negeri Belanda. Namun lama-kelamaan budaya mereka bercampur dengan kebudayaan Jawa sehingga hal tersebut ikut mempengaruhi gaya arsitektur rumah mereka. Selain itu perubahan pada bangunan mereka bisa pula dikarenakan iklim dan cuaca yang berbeda antara dinegeri Belanda dengan ditanah Jawa. Sehingga bangunan mereka disesuaikan dengan iklim dan lingkungan setempat.
Di Surakarta rumah bergaya Indis dengan ciri-ciri landhuis yang masih terawat rapi salah satu contohnya adalah rumah Agustinus De Zentje, yang sekarang menjadi rumah dinas Walikota Surakarta. Rumah ini memiliki bentuk bangunan yang besar dan luas. Kemewahannya terlihat dari berbagai ragam hias yang terdapat dirumah ini. Hal ini bisa dipergunakan sebagai tolak ukur derajat dan kekayaan pemiliknya. Gaya hidup yang cenderung dijadikan sebuah lambang status sosial yang tinggi. Rumah ini dikenal masyarakat Surakarta dengan sebutan Loji Gandrung.
Rumah sebagai tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan hidup yang utama bagi manusia disamping kebutuhan sandang dan pangan. Oleh sebab itu rumah dibutuhkan manusia bukan hanya sebagai tempat tinggal namun juga sebagai tempat berlindung dari ancaman alam.
Dalam menempati suatu bangunan rumah, pemiliknya berusaha dan bertujuan untuk mendapatkan rasa senang, aman, dan nyaman. Untuk mendapatkan ketentraman hati dalam menempati bangunan rumah ini, orang berusaha untuk memberi keindahan pada bangunan tempat tinggalnya. Maka dipasanglah berbagi macam hiasan, baik hiasan yang kontruksional atau yang tidak.
Arsitektur bukan hanya sebuah bangunan atau monumen yang tanpa jiwa. Arsitektur rumah tinggal sebagai hasil budaya merupakan perpaduan karya seni dan pengetahuan tentang bangunan, sehingga arsitektur juga membicarakan berbagai aspek keindahan dan kontruksi bangunan. Seorang arsitek dituntut bukan hanya membangun sebuah banguanan semata, tetapi juga harus memperhatikan aspek-aspek lainnya sehingga tersebut memiliki jiwa, karakter, yang menjadi ciri khas dari sebuah bangunan.
Gaya atau style dapat dijadikan identifikasi dari gaya hidup, gaya seni budaya, atau peradaban suatu masyarakat. Suatu karya yang berupa sebuah bangunan atau barang dapat dikatakan mempunyai gaya bilamana memiliki bentuk (vorm), hiasan (verseing) dari benda tersebut selaras (harmonis) dengan kegunaan dan bahan material yang dipergunakan.
Sebuah karya arsitektur merupakan sebuah karya seni yang rumit karena memadukan imajinasi khusus yang digabungkan dengan teori-teori bangun ruang, sehingga harus dipelajari dan disertai dengan latihan-latihan, serta percobaan-percobaan berulang kali.
Dalam arsitektur ada tiga unsur yang harus diperhatikan yaitu;
1) masalah kenyamanan (convinience),
2) kekuatan atau kekukuhan (strength),
3) keindahan (beauty).
Ketiga faktor tersebut selalu hadir dan saling berkaitang erat dalam struktur bangunan yang serasi. Seorang arsitek yang arif tidak akan mengabaikan ketiga faktor tersebut. Ketiganya merupakan dasar penciptaan yang memberikan efek estetis.
Seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang bernama Henri Maclaine Pont berpendapat bahwa selain bentuk dan fungsi bangunan ada hal lain yang sama pentingnya yaitu adanya hubungan logis antara bangunan dengan lingkungan. Hal ini bisa diadaptasikan oleh orang-orang Belanda sebelum Maclaine Pont datang ke Hindia-Belanda. Bangunan-bangunan rumah landhuis mengadaptasi bangunan-bangunan rumah tradisional setempat yang sesuai dengan alam dan lingkungan sekitar, kemudian dipadukan dengan teknik bangaunan Eropa, serta kemegahan bangunan-bangunan Eropa serta keindahan dari ornamen-ornamennya. Dari sini lalu terciptalah bangunan-bangunan bergaya Indis yang mewah dan tidak lagi seperti bangunan dinegeri asalnya.

KESIMPULAN
Buku ini mengulas kebudayaan Indonesia yang berkembang di Jawa abad XVIII – media abad XX Di samping merebaknya sikap ketidakadilan serja pelanggaran hak-hak manusia yang dilakukan oleh kaum penjajah Belanda, ternyata pada waktu itu terjadi pula proses pembentukan kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budaya Indis yang merupakan perpaduan budaya barat dan unsur-unsur budaya Timur, khususnya Jawa, dibahas dengan rinci oleh penulis. Dengan bahan-bahan arsip serta karya-karya peningalan pada masa lampau yang terdapat di negeri Belanda dan di tanah air, terungkaplah kekayaan budaya kita pada masa penjajahan yang sangat unik.
Budaya Indies telah memberikan pengaruh pada banyak hal di Nusantara, khususnya di Jawa Timur tepatnya di kota Malang. Pengaruh-pengaruh tersebut dpat terlihat pada beberapa bentuk bangunan, khususnya bentuk rumah yang berpengaruh terhadap stratifikasi sosial. Hal tersebut menunjukkan suatu kondisi ironis, bahwa produk budaya bangsa yang penuh dengan nilai luhur, malah menunjukkan rendahnya derajat bangsa Indonesia pada masa kolonial. Namun ketika kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, terjadi pendobrakan nilai warisan kolonial Belanda. Ini berujung pada pembongkaran ukuran stratifikasi sosial kolonial Belanda. Hal ini pada akhirnya merubah fungsi bagian-bagian dari rumah.
Dari uraian di atas dapat ditarik suatu simpulan sebagai berikut:
(1). Pengaruh budaya indies dalam bentuk rumah terkait dengan stratifikasi sosial pada masa kolonialisme Belanda.
(2). Seiring dengan kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi pembongkaran nilai-nilai yang diterapkan kaum kolonial Belanda. Hal ini diikuti adanya pergesaran nilai untuk mengukur status sosial tidak lagi memakai ukuran warna kulit. Implikasinya dalam menerima tamu tidak lagi dibeda-bedakan perlakuannya.

SARAN
Kami mengharapkan kebudayaan Indis tetap ada di Indonesia tetapi tidak menghilangkan kebudayaan Indonesia itu sendiri, agar menjadi peninggalan sejarah dari zaman kompeni sampai revolusi. Indonesia agar menjaga kelestarian budayanya dan tidak terpengaruh oleh budaya asing yang masuk bukan berarti menolak tapi menyortir budaya yang masuk dan menerimanya bila tidak bertentangan dengan budaya Indonesia.

Leave a comment »