Siapa Bilang Mertua dan Menantu Tidak Bisa Akur? Part1

EKSPEKTASI.. Rabu, 1 November 2017

Tanpa diduga, hari ini niat dan kesempatan ngeblog terwujud lagi. Yeay… Terkadang kerja tanpa target itu lebih menyenangkan, ngerjainnya lebih rileks tanpa beban dan tidak terburu-buru. Coba kalau lagi dapat tugas dari bos, terus dikasih deadline cuma sehari pasti rasanya males. Padahal kita kerja digaji, tugas seharusnya udah jadi kewajiban dong yah. Lah ini yang enggak digaji, enggak dikasih deadline malah semangat banget ngerjainnya. Kenapa hayo? Ya karena ngerjainnya dengan hati yang gembira.

REALITA.. Kamis, 2 November 2017

Semalam udah semangat banget nih yah mau ngetik, eh baru 1 paragraf si jagoan kecil minta ‘nen lama banget. Alhasil ‘mak nya ikut ketiduran sampe pagi.hahhaa (ya beberapa kali bangun sih, tapi buat ‘nen aja, gak sempet tuh ingat laptop masih nangkring minta dipijet (red:ketik)). Ini buat ekspektasi dan realita lebih seru kalau pakai gambar yah. Tapi apa mau dikata untuk sementara waktu berupa tulisan aja dulu. Nanti kalau sempet tampilin gambar juga deh, biar makin asik. 🙂 Semoga kali ini ide yang mau dituangkan ke blog lancar yah, biar tuntas ngerjainnya. Padahal nih ya, semalem udah banyak banget cerita yang mau diketik. Eh sekarang malah udah buyar semua, tapi semangat ngeblog mah tetep dooong. 😛

Okai, karena saya masih lupa topik semalem. Akhirnya saya akan bahas topik yang paling banyak dibahas oleh orang yang akan menikah atau bahkan yang sudah menikah. Tadinya topik ini mau saya bahas minggu depan, jadi awal ngeblog maunya cerita pembuka dulu gitu. Tapi yasudahlah yah, sama aja. Topik ini juga sering banget ditanya sama teman-teman loh.

Saya menikah dengan suami saya sudah setahun lebih, dan kami pacaran sudah 7 tahun (yang mana kami menikah tepat di hari anniversary ke-7). Kalau kata orang sweet banget yah, dan kami juga beruntung punya orang tua yang mau mengabulkan permintaan kami. Padahal persiapan nya cuma 10 bulan, dan kami menikah di jakarta yang notabene nya gedung batak itu biasa di booking setahun sebelum menikah. Mungkin untuk orang yang tinggal di luar jabodetabek ada yang bingung. Kok berlebihan sekali sampai booking gedung setahun sebelum, sedangkan kalau di kampung halaman kami di tapanuli persiapan nikah 3 bulan juga sudah cukup. Alasannya karena tidak semua gedung di jakarta bisa dipakai untuk pesta adat, dan pesta adat dibuat di halaman rumah juga tidak memungkinkan.

Sekitar 2tahun sebelum menikah, mertua saya sudah merenovasi rumah untuk tempat anaknya tinggal setelah menikah. Suami saya memang anak bontot laki-laki, jadi biasanya memang anak bontot laki-laki itu ya jaga kandang, hehe. Awalnya orangtua saya kurang setuju, mereka berpikir baiknya hidup mandiri berdua saja dulu. Jangan sampai ada masalah baru pindah rumah. Tapi setelah dibicarakan dengan suami saya, akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal disini bersama orang tua kami (mertua saya). Mau tau alasannya apa? Karena kami bertekad akan menjaga orang tua kami di masa tuanya ini (alasan utama). Alasan kedua, kami berpikir buang-buang uang saja kalau akhirnya ngontrak dekat sini juga. Padahal rumah sudah sengaja direnovasi. Dengan keputusan inipun, orang tua saya setuju saja. Mereka tidak pernah mau memaksakan keinginannya setelah anak-anaknya menikah, mereka sudah membebaskan pilihan anaknya. I love you so much pa-ma (argh, tiba-tiba jadi kangen lagi sama orang tua super ini. Mereka adalah sosok yang luar biasa dalam hidup kami anak-anaknya)

Beruntungnya, saya punya orang tua yang menanamkan konsep bahwa mertua itu harus dianggap seperti orang tua sendiri. Hasilnya hidupku nyaman (semoga mertuaku juga merasakan yang sama yah) tinggal bersama orang tua kami disini hingga saat ini dan semoga selamanya, AMIN. Ternyata memang pola pikir itu sangat mempengaruhi. Berpikir saja kalau mertua adalah orang tua kita, pasti otomatis kita menghormati dan memperlakukan mereka sebaik mungkin. Mertua kita juga memperlakukan kita seperti anaknya sendiri. Terus kalau ada yang bilang,”ah, gak juga tuh. Gw udah baik sama mereka tapi mereka bertindak sesuka hati,mertua gw mah begini.begini.begini”. Lah itu namanya belum sepenuhnya baik sama mertua, wong di belakang dia, masih suka ngomongin kejelekannya ke orang lain. Gimana toh? Banyak sekali memang orang yang bermasalah dengan mertuanya. Akupun menyadari itu, jangankan dengan mertua. Dengan orang tua sendiri aja kita masih suka cekcok, apalagi dengan mertua yang notabene nya adalah orang asing. Tidak ada satupun yang cocok di dunia ini, bahkan saudara kembar sekalipun. Yang ada bagaimana kita menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain, dan kalau ada yang kurang cocok baiknya tidak usah diumbar-umbar ke orang lain (sama aja dengan buka aib kita). Saya juga tidak memungkiri akan adanya ketidak cocokan, tapi ya wajaar saja. Wong kita diciptakan Tuhan berbeda satu dengan yang lainnya kok.

Ngomong-ngomong tinggal sama mertua, beberapa hari kemarin saya sempet cekcok sedikit dengan suami saya masalah ini. Tau kenapa? Karena saya ngebahas untuk pindah dengan alasan yang tidak kuat, dan keadaan baik-baik saja. Akhirnya suami saya menjawab “kenapa harus pindah? Makanya gak usah banyak dengar apa kata orang”. Ah, akhirnya aku tersadar sudah tergoda oleh omongan orang. Karena sebelumnya ada orang yang bertanya kenapa masih tinggal dengan orang tua? Kan sudah menikah, seharusnya tinggal sendiri. Entah kenapa saat itu saya lupa dengan tujuan kami tinggal bersama orang tua kami disini.

Setelah direnungkan saya sangat bersyukur telah menemukan keluarga baru yang sangat diberkati. Ini juga tidak lepas dari pola didik dan pola pikir baik yang sudah ditanamkan oleh orang tua saya. Keseharian saya di rumah sekarang, kurang lebih sama seperti keseharian di rumah orang tua saya. Meskipun banyak kebiasaan keluarga kami yang berbeda satu dengan yang lain. Namun saya tidak menemukan kendala yang berarti. Sejauh ini semua dapat di handle.

Pernah suatu kali saya meminta keluarga saya menginap di rumah. Keluarga saya awalnya enggan, sedangkan mertua saya sangat welcome. Ya karena ini adalah rumah kami, keluargaku juga adalah keluarga mereka. Indah bukan? Namanya juga sudah menikah, bukan 2 orang saja yg menikah. Tapi 2 keluarga kami.

Jadi pola pikir kalau mertua dan menantu itu tidak bisa akur harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.. hahaha # nahloh

Salam hangat,

MamaGeMeS 🙂

Advertisements

Leave a comment »

Blog Pengganti Diary

Sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah menuangkan unek-unek melalui tulisan. Biasanya setiap hari aku menuangkan tulisan lewat buku/diary meskipun hanya 1 paragraf. Menulis pengalaman harian itu ternyata sangat penting loh, kenapa? Ternyata setelah kita menuangkan pengalaman harian kita lewat tulisan, kita dapat menyadari kesalahan kita, merenungkannya. Lebih pastinya lagi, tulisan dapat menjadi memori di hari tua saat kita sudah terbatas dalam mengingat kejadian-kejadian masa lalu. Pasti ada cerita lucu, sedih, bahagia, dan memalukan pastinya (setelah diingat-ingat “aduh kenapa bisa sebodoh itu sih gw dulu” atau “aduh, gw pernah se-alay itu yah?”). Ini adalah ungkapan yang sering kita dengar saat orang membaca ulang atau melihat foto lama di diary, facebook, path, twitter, dll. Tidak ada salahnya kalau kita mengenal social media, yang salah adalah ketika kita terlalu mengumbar kehidupan pribadi kita setiap hari. Baru beberapa hari yang lalu baca postingan teman yang membaca berita perampokan. Mungkin berita semacam ini sudah biasa kita dengar, tapi ternyata pengakuan para perampok ini menggegerkan para pembaca. Mereka merampok sebuah rumah karena mereka mengetahui kalau keadaan rumah tersebut kosong dari status penghuni rumah. Ternyata selama ini mereka memata-matai postingan korban, dimulai dari barang-barang yang dibeli, keadaan rumah, hingga akhirnya status berlibur sekeluarga. Miris yah? Mungkin sebagian besar kita juga tak pernah sampai berpikir sejauh para perampok ini. Disinilah yang namanya kalau “kejahatan itu terjadi bukan karena niat, tapi karena keadaan yang mendesak dan kesempatan yang ada”.

Kembali ke topik, jadi semenjak dulu punya pacar (yang sekarang jadi suami 🙂 saya jarang banget menulis diary. Alasannya, karena dia sudah menjadi diary hidupku. Diary yang bisa kasih feedback atas cerita kita. Tapi setelah sekarang disadarkan bahwa menulis pengalaman harian itu juga penting guna perbaikan diri ke depannya, jadi saya bertekad minimal dalam seminggu adalah 1-2 cerita yang dituangkan dalam tulisan. Saya gak mau terlalu muluk-muluk lah yah, tekatnya sehari 1 tulisan, wong nulis cerita 1 paragraf ini aja udah 1jam sendiri. Pasti pada heran yah? lebay banget sih nulis gini aja sampe 1 jam. hahhaa. Mau tau alasannya? Karena saya sudah punya anak bayi yang harus ditidurkan dulu, jadi nulis kayak gini butuh perjuangan juga loh para netijen. Mulai nulis jam 10 malam, eh setengah jam kemudian dia ngek-ngek risih dikasih ‘nen nggak mau, digendong baru tidur lagi. Terus habis itu lanjut ngetik lagi, yang mana harus baca ulang dari awal biar ceritanya nyambung.

Niat untuk ngeblog ini bermula dari kejenuhanku dalam menjalani hari-hari yang terkadang saya rasa kurang untuk mengembangkan skill saya. Kenapa? Karena sudah 4,5 bulan saya berhenti bekerja. Jenuh disini dalam artian pekerjaan rutinitas sehari-hari yang itu lagi- itu lagi dan di dalam rumah setiap hari. Jenuh bukan berarti tidak bahagia dan senang yah. Karena saya sangat bahagia dan menikmati keseharian bersama anak di rumah. Apalagi kalau papa nya pulang ke rumah. Rasa jenuhnya hilang, ahahaha. Makanya setiap diajak keluar rumah tuh rasanya senang banget. Setiap orang yang sudah pernah bekerja, lalu tidak bekerja pasti merasakan kejenuhan yang sama. Akhirnya saya mencari tahu, bagaimana caranya agar kejenuhan itu hilang, setelah muncul ide ngeblog ini otomatis memori saya kepake untuk mengingat kejadian yang saya alami untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Hal yang saya dapat justru lebih dari yang saya bayangkan. Selain lega dan senang, saya juga sangat bersyukur untuk setiap pengalaman yang saya alami selama ini, saya juga akhirnya menemukan me-time saya. Yeay, ini juga pasti dialami oleh ibu baru yang punya anak. Dimana setiap waktu kita terkuras ngurusin anak dan rumah, kalau ada waktu lengang pasti dipake buat mandi/makan/istirahat atau cek sosmed.hahaha

Bahagia itu kita yang ciptakan, ya ternyata ungkapan ini benar banget. Seketika saya bahagia saat menuangkan unek-unek saya (meskipun sesekali diusik sama rengekan si jagoan kecil, dengkuran halus jagoan besar, dan terakhir diusik oleh ke-lemot-an laptop ini)hahaha, kenapa yah dari tadi si penulis ini kerjanya ketawa aja. Ya hidup disyukurin aja, kalau ada kendala ya diketawain aja, ya kalau orangnya kalem ya disenyumin aja toh. Daripada bersungut-sungut ya kan? 🙂 mending dapet solusi, yang ada laptop kalau bete dan bersungut-sungut gak sabaran liat laptop lemot terus dibanting, terus laptop eror-mati total-ngeblog pun gagal. MIRIS,bahahahahaha

Baru hari pertama mulai ngeblog tantangannya lumayan banyak nih yah.hahha. Setelah anteng setengah jam ngetik, eh si kecil ngerengek lagi, pas dilihat siku papanya udah bertengger manis di atas kepala anaknya, pantes anaknya risih. huft..

Oke sebelum laptop eror lagi, si kecil bangun minta ‘nen, papanya tidur nyenggol anaknya mending disudahi dulu untuk hari ini yah.

hehhe

Salam hangat,

MamaGeMeS

:p

*note:

sebelum ditimpuk pisang ambon( dipakein nutela enak nih, nasib ibu-ibu menyusui tengah malem inget nama makanan jadi laper) dari para netijen, saya jelaskan dulu, sebutan mama gemes itu tercetus dari keluarga mamaku yang dimana GMS itu adalah singkatan nama anakku. jd biar easylistening disebutlah mamagemes

Leave a comment »

Belajar memaafkan dan minta maaf

Bermula dari libur lebaran, kakakku (Gloria) dan suaminya bang Raja akan melangsungkan resepsinya yang ketiga di Singkawang. Dari awal memang aku tidak berencana ikut, karena bapak-mama juga baru datang ke Jakarta. Lagian kan yang datang mereka aja, aku dan abang-abang juga tidak ada yang hadir. Jadi diputuskan untuk aku tidak ikut ke Singkawang (sebenernya sih pengaruh tiket yang mahal juga :p)

            Sewaktu kakak nikah dengan mengadakan 2 kali resepsi saja aku sudah berdecak kagum, apalagi mama bilang akan mengadakan resepsi kembali di Singkawang. Itu dikarenakan profesi orang tuaku sebagai Pendeta, yang menjadikan jemaatnya yang ada di mana-mana (makanya kakak mengadakan 3 resepsi di 3 pulau (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan). Ini juga berpengaruh karena kakakku adalah anak pertama yang menikah, dengan melangkahi abangku yang pertama (yang sebentar lagi akan berencana menyusul kakakku, Amin!) menjadikan resepsinya diadakan lagi di Singkawang. Awalnya sempet terpikir, kakak aja bisa 3x resepsi aku juga kalau nikah akan kayak gitu ah. Hehe

            Setelah tiba hari sabtu  tanggal 3 Agustus 2013, kakak dan b.Raja berangkat pagi jam 09.10 padahal pesawatnya jam 13.50 (kalau tidak salah). Kakak sih alesannya takut macet jalan ke bandara karena puncak arus mudik. Ternyata dugaan kakak melenceng, mereka sudah sampai di bandara jam 10.08. Namun dari pengaduan abang iparku, mereka macet saat chek-in, yah setidaknya dugaan kakakku ada benarnya juga..hehehe

            Dari perbincangan kami, abangku yang ketiga (b.Satdes) katanya akan menemaniku selama liburan ditinggal kakak, awalnya dia mengajakku berlibur ke pulau seribu bersama teman-temannya tapi aku memilih tidak ikut dan dia juga tidak. Setelah kakak berangkat, aku sudah minta salah seorang temanku untuk menemaniku di rumah, namun dia belum memberi kepastian. Dari siang aku ke luar rumah untuk pergi mengikuti acara syukuran ke rumah salah satu mantan naposo yang baru melangsungkan pernikahan di kampung. Sorenya jam 18.00-20.00 aku akan mengikuti latihan badminton, karena pada hari sabtu ini, kami akan bertanding melawan naposo gereja-gereja lain dalam rangka memenuhi undangan parheheon naposo HKBP Rawamangun. Setelah selesai latihan, aku menghubungi temanku, namun dia tidak bisa. Sebenernya kesal, kenapa dia tidak memberitahu dari awal tapi yasudahlah.

            Sebenarnya dari jam 16.19 b.Satdes menanyakanku lagi dimana dan nanti malam kemana? Namun sewaktu aku minta dia menemaniku dia bilang gak bisa. Kesel banget, adeknya ditinggal sendiri di rumah.huhuhu.. Malamnya aku pulang ke rumah sendirian dari latihan badminton, aku menelpon si abang tapi tidak ada respon, akupun menelpon bapak untuk berbicara dengan bapak-mama dan kakak di sana, setidaknya menemaniku sebelum tidur, namun telponku juga tidak ada respon . Akhirnya aku tidur sendiri di rumah. Pagi ini aku gereja jam 06.00 di HKBP Suprapto, padahal sebenernya hari ini aku ada pelayanan paduan suara di ibadah sore jam 18.00 di HKBP Semper, namun aku mengurungkan niatku karena aku ingin ke Cibinong berkumpul bersama-sama saudaraku di sana (termasuk bertemu abangku yang menyebalkan satu itu, tapi tetap aku sayang J)

            Sampai siang, b.Satdes pun tidak ada menanyakan kenapa aku nelpon semalem, bapakpun tidak ada telpon balik (kalau bapak dimaklumi karena hp im3 nya mungkin belom di cek dari semalem, lagi pula hari minggu pasti bapak sibuk dengan pelayanannya). Kesal luar biasa sama b. Satdes, akhirnya aku yang menghubungi dengan rasa kesal yang berkecamuk karena merasa tidak diperdulikan. Saat chat ku di bales, aku tidak meresponnya kembali. Sampai akhirnya abangku yang pertama (b.Posan) menelpon, aku sempat membiarkannya karena masih kesal. Padahal gak ada hubungannya sama b.Posan.hehe Aku membuat pesan di grup whatsaapp keluargaku mengenai kekesalanku, akhirnya b.posan menelponku untuk yang kedua kalinya dan aku pun mengangkatnya, dengan suara bergetar diikuti air mata yang menetes tanpa kusadari. Bisa dibilang air mata itu adalah rasa haru akhirnya ada yang menghubungiku (haha.. sedihnya..) setelah berbicara panjang lebar ternyata abang datang juga ke Singkawang, dia membuat surprise datang tiba-tiba. Semakin kesal saja, namun abang dan mama langsung menawarkanku untuk segera mencari tiket untuk berangkat ke Singkawang besok. Mereka tidak tega mendengar tangisanku, namun aku mengatakan tidak bisa karena hari sabtu aku akan tanding badminton. Di telpon aku menceritakan kekesalanku karena tidak ada yang menanyakan kabarku, terutama b.Satdes yang konteksnya kami berada di Jakarta.

Setelah selesai menelpon,  b.Satdes pun membalas chat di grup dengan nada kesal juga. Akhirnya kami berdua saling menyalahkan satu sama lain, abang mengatakan aku manja, tidak mandiri, mencari-cari perhatian, bilang aku selalu merepotkan orang. Semakin teriris rasanya hati ini. Hingga akhirnya aku bilang, baru kali ini aku merasakan sakit hati sesakit ini sama abang sendiri, namun kata-kata itupun direspon balik. Abang bilang dia juga sering sakit hati sama omonganku. Dengan rasa sakit di hati akupun bilang di grup, bahwa ”aku gak akan minta perhatian sama orang bapak-mama, abang dan kakak kalau aku gak sayang sama kalian. Karena aku sayang sama kalian makanya aku butuh perhatian kalian. Kalaupun aku mandiri, aku tetap butuh kasih sayang kalian” Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi obrolan ini, lebih baik aku tidak menghubunginya lagi pikirku. Sempat beberapa lama aku terdiam dan menangis. Aku pun melanjutkan pekerjaan rumah kembali. Setelah semua beres, akupun kembali berpikir, orang tuaku tidak pernah mengajarkan kami untuk berlama-lama saling diam-diaman, apalagi menyimpan kesal dan dendam. Akupun memutuskan untuk membuat tulisan ini sebagai permintaan maaf dan rasa sayangku untuk keluargaku. Aku terpikir membuat tulisan ini karena teringat akan bacaan Alkitab dari Matius 18:21-22 yang isinya: kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ”Tuhan , sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya :”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Maka dengan rasa yang menggebu-gebu akupun bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini sebelum pagi menyingsing, bahkan sampai aku menunda berangkat ke cibinong, karena mama sering bilang (sama seperti di Alkitab) tertulis di Efesus 4:26 isinya : Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.

Maaf yah Pa-Ma, b.Posan, k.Gloria, b. Satdes dan keluarga baru kami (b.Raja) kalau aku ada salah. Aku sangat mengasihi kalian. God bless us and love you all J

Leave a comment »

TUGAS SOFTSKILL SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI “EVALUASI KINERJA PADA KARYAWAN YANG MENGALAMI MUTASI MENGGUNAKAN PAPI KOSTIK”

TUGAS SOFTSKILL SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

“EVALUASI KINERJA PADA KARYAWAN YANG MENGALAMI MUTASI MENGGUNAKAN PAPI KOSTIK”

 

Penyusun:

¨      Devi Denanda (15509862)

¨      Diaz Prabowo (15509135)

¨      Dienning Oktishinta (15509040)

¨      Epifany Limbong (16509091)

¨      Erlinda Astriana (13509230)

¨      Fitri Yanti (12509173)

¨      Hafia Gina Rosada (14509338)

¨      Hanan (15509201)

¨      Chairul Anwar (15509201)

 

Dosen:

Dr. Asep Juarna


PAPI Kostick (Perception and Preference Inventory

PAPI Kostik di buat oleh Guru Besar Psikologi Industri asal Massachusetts, Amerika, Dr. Max Martin Kostick, pada awal tahun 1960-an. PAPI Kostick mengukur dinamika kepribadian (psychodynamics) dengan memperhatikan keterkaitan dunia sekitarnya (environment) termasuk perilaku dan nilai perusahaan (values) yang diterapkan dalam suatu perusahaan / situasi kerja dalam bentuk motif (need) dan standar gaya perilaku menurut persepsi kandidat (role) yang terekam saat psikotest.

Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari Papi Kostick, maka kita akan banyak memperoleh informasi mengenai profile individu baik dari segi tipologi kepribadiannya, maupun dalam kontek pekerjaannya.

PAPI Kostick merupakan laporan inventori kepribadian (self report inventory), terdiri atas 90 pasangan pernyataan pendek berhubungan dalam situasi kerja, yang menyangkut 20 aspek keribadian yang dikelompokkan dalam 7 bidang: kepemimpinan (leadership), arah kerja (work direction), aktivitas kerja (activity), relasi social (social nature), gaya bekerja (work style), sifat temperamen (temperament), dan posisi atasan-bawahan (followership).

Tes Papi Kostick saat ini sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan / organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari Papi Kostick, maka kita akan banyak memperoleh informasi mengenai profile individu baik dari segi tipologi kepribadiannya, maupun dalam kontek pekerjaannya.

KELEBIHAN TES PAPI KOSTICK

PAPI menggunakan forced choice format pada pasangan-pasangan pernyataan yang setara. Sangat sulit untuk melakukan faking/ manipulasi. Item-item pendek, ringkas, Interpretasi logik dan spesifik sehingga dapat difahami dengan jelas oleh tester maupun testee. Sangat berguna untuk evaluasi karyawan karena menggambarkan administration styles dan dapat digunakan 2 orang/ lebih untuk mengetahui hubungan atasan bawahan dan mengembangkan solusi interpersonal.

Laporan hasil tes disampaikan dalam bentuk visual (berupa cakram). Laporan ini akan memudahkan pengguna (user) mengenali potensi dirinya secara komprehesif, namun tetap mudah dipahami. Hasil analisa menghasilkan dinamika kepribadian seseorang yang telah dipengaruhi situasi kerja sekitarnya, yang merupakan gambaran kepribadian keseluruhan dan tidak terpisah -pisah, serta menjadi satu dinamika kepribadian yang utuh.
Mengukur personality traits, tes ini juga mengukur psychological needs.

Analisis konfigurasi

  • Membuka peluang untuk membuat pola konfigurasi dari orang yang dikehendaki user untuk dibandingkan dengan konfigurasi kandidat pada seleksi, promosi, atau mutasi
  • Mengukur adjusment dan perkembangan calon karyawan selama masa percobaan
  • Membandingkan konfigurasi dari pasangan yang akan (atau telah) terlibat dalam kerjasama team, mengidentifikasi aspek-aspek positif dan yang bisa menjadi penghambat, peluang melakukan treatment, dan mengukur efek daripadanya
  • Merencanakan dan mengukur hasil training

10 ROLE SCALES

  • Leadership role (L)
  • Organized type (C)
  • Attention to detail (D)
  • Conceptual thinker (R)
  • Social harmonizer (S)
  • Ease in decision making (I)
  • Work pace (T)
  • Emotional restraint (E)
  • Role of the hard worker (G)
  • Integrative planner (H)

10 NEED SCALES

  • Need to control others (P)
  • Need for rules and supervision (W)
  • Need for change (Z)
  • Need to finish a task (N)
  • Need to be noticed (X)
  • Need to belong to group (B)
  • Need to relate closely to individuals (O)
  • Need to be forceful (K)
  • Need to achieve (A)
  • Need to be supportive (F)

ADMINISTRASI

  • PAPI-N: Responden diminta untuk memberi tanda sejauhmana mereka setuju/ tidak setuju dengan pernyataan dalam rating scale 7 skala. PAPI-N menyertakan 6-item ‘ skala “social desirability”.
  • PAPI-I: Masing-masing item terdiri atas dua pernyataan (A dan B). Subjek diminta untuk memilih satu diantara pernyataan tersebut yang sesuai dengan dirinya, dan bukan memilih yang dianggap umum atau wajar oleh masyarakat.
  • Apabila subjek memilih pernyataan A, subjek diminta untuk melingkari tanda panah yang ada diatas nomor item pada lembar jawaban.
  • Sedangkan, apabila subjek memilih pernyataan B, subjek diminta untuk melingkari tanda panah yang ada dibawah  nomor item  pada lembar jawaban
  • Tidak ada batasan waktu, tapi biasanya dapat diselesaikan 25-35 menit. Skor biasanya dihitung pada 20 skala: 10 skala peran dan 10 skala kebutuhan.
  • Atas dasar skor ini, kedudukan individu dipetakan ke dalam suatu profil (‘’wheel’’ ), yang diorganisir di sekitar 7 struktur faktor.
  • Alat ini terutama didesain untuk digunakan oleh para manajer, staff teknis senior, penyelia pekerjaan kantor dan trainee pasca sarjana.

SKORING

  • Isi kotak  dari masing-masing bagian yang diukur, yang terdapat pada lembar jawaban, dengan menjumlahkan tanda panah yang dilingkari dan menuju ke arah kotak tersebut.
  • Cek total yang terletak di atas dan di bawah lembar jawaban dengan menjumlahkan nilai dari aspek yang berkedudukan sejajar dengan kotak tersebut. Jumlah total yang di atas adalah 45, begitu juga dengan yang di bawah. Jadi jumlah keseluruhan harus 90, sesuai dengan jumlah item.
  • Pindahkan nilai yang terdapat pada masing-masing bagian yang diukur, yang terdapat pada  lembar jawaban ke lembar diagram, sesuai dengan kode huruf yang ada, dengan melingkari nilai dari bagian yang diukur. Kemudian, hubungkan seluruh lingkaran tersebut sehingga data siap di interpretasi.

ASPEK YANG DIUKUR

  • Ada 7 aspek yang diukur, yang masing-masing aspek terdiri atas bagian-bagian yaitu:
  • followership yang terdiri atas bagian F dan W
  • work direction  yang terdiri atas bagian N, G, dan A
  • leadership  yang terdiri atas bagian L, P dan I
  • activity yang terdiri atas bagian T dan V
  • social nature yang terdiri atas bagian X, S, B, dan O
  • workstyle  yang terdiri atas bagian R, D, dan C
  • temperament yang terdiri atas bagian Z, E dan K.

F: need to support authority  (kebutuhan membantu atasan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh kekuatan dorongan dalam diri seseorang untuk dihubungkan dengan otoritas atau kekuatan pimpinan, kesesuaian dengan petunjuk atau saran, dan “kemapanan” dalam struktur hierarki, sebagai pembeda terhadap mereka  yang mandiri dan percaya diri.

W: need for rules and supervision  (kebutuhan untuk mengikuti aturan dan pengawasan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh seseorang memerlukan dukungan, arahan atau tuntunan dari lingkungan kerja yang teratur/terstruktur, sebagai lawan dari situasi dimana seseorang dapat menampilkan sikapnya yang otonom, berinisiatif dan dapat mengarahkan dirinya sendiri.

è Ekstrimnya adalah orang terlalu tergantung pada organisasi pada satu sisi dan orang lain bersifat “self starter” pada sisi yang lain.

N: need to finish a task  (kebutuhan menyelesaikan suatu tugas sendiri)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh dorongan dari dalam diri seseorang untuk menangani sendiri suatu tugas sampai benar-benar selesai.

è Faktor ini mencerminkan ketekunan, pada titik “single mindedness” pada ekstrim tinggi, dan kurangnya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas, bahkan mengabaikannya pada ekstrim yang lain

G: role of hard intense worker  (peran – pekerja keras)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh seseorang mengidentifikasikan  dirinya dengan kerja keras.

è Faktor ini menunjukkan penerimaan seseorang terhadap bekerja secara intensif dengan upaya yang sesuai, dalam pandangan seseorang yang melihat kerja sebagai sesuatu yang menarik, bahkan menyenangkan atau dalam pandangan seseorang yang lebih suka menghindari beban kerja bila hal tersebut dimungkinkan.

A: need to achieve  (kebutuhan berprestasi)

è Faktor ini menunjukkan seberapa besar daya dorong pribadi dan dalam diri seseorang, seberapa jauh keinginannya untuk mencapai sukses, dan seberapa besar ambisinya. Faktor ini mencerminkan derajat keyakinan dan komitmen dalam dirinya untuk mendapatkan hasil dan untuk mencapai tujuan kerja yang ditentukannya bagi dirinya sendiri.

L: leadership role  (peran pemimpin)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh keyakinan diri seseorang untuk memproyeksikan dirinya dalam posisi pemimpin, seberapa jauh kenyamanan yang dirasakannya dalam sikap kepemimpinan, dan seberapa jauh  ia menerima dirinya dalam peran tersebut.

P: need to control others  (kebutuhan mengatur orang lain)

è Faktor ini menunjukkan seberapa besar keinginan seseorang untuk memegang kendali/kontrol, untuk menggerakkan kekuatan dan dominasi terhadap orang lain.

è Faktor ini menunjukkan derajat kemauan seseorang untuk melaksanakan tanggung jawab yang timbul dari peran kepemimpinan untuk “bekerja melalui orang lain dalam menyelesaikan tugas”.

I: ease in decision making  (peran – pembuat keputusan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa besar kemampuan seseorang dalam kaitan dengan tugas untuk mengambil keputusan, menerima tanggung jawab dari keputusan yang diambilnya dan menerima konsekuensi dari keputusannya tersebut.

è Faktor ini juga menunjukkan derajat rasa tidak senang atau rasa tertekan bila menghadapi situasi dimana harus mengambil keputusan.

T: pace  (peran – pembuat keputusan)

è  Faktor ini menunjukkan kecepatan dimana seseorang suka (secara mental bekerja).

è  Faktor ini menunjukkan kecepatan atau kesigapan mentalnya untuk bekerja, bukan dalam arti kepandaian atau inteligensinya, tetapi dalam arti kesigapannya untuk langsung bekerja (on-the go), dan kepekaannya terhadap “urgensi”.

V: vigorous type  (peran –sibuk)

è Faktor ini menunjukkan derajat seberapa jauh seseorang dapat dihubungkan dengan penampilan, aktivitas dan gerakan fisik.

è Faktor ini menunjukkan energi fisik yang dimiliki seseorang dan kemauannya untuk menunjukkan hal tersebut dalam kegiatannya.

X: need to be notice  (kebutuhan untuk diperhatikan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh keinginan seseorang untuk dikenali, untuk mencari perhatian yang dilakukan secara nyata dan terbuka.

è Faktor ini mencerminkn  dorongan untuk “tampil”, menjadi “sorotan” dan dikenal.

S: social extension  (peran – bermasyarakat)

è Faktor ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam melakukan hubungan/interaksi dengan orang lain secara hangat atau menyenangkan.

è Faktor ini mencerminkan derajat keyakinan diri seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, memahami arti jalinan sosial dan benar-benar menyukai hubungan dengan orang.

B: need to belong to groups  (kebutuhan diterima oleh kelompok)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh kebutuhan seseorang untuk berada dalam kaitan dengan kelompok, untuk dapat diterima dan menjadi bagian dari kelompok.

O: need for closeness  (kebutuhan akankedekatan dan kasih sayang)

è  Faktor ini menunjukkan kebutuhan seseorang akan keakraban, kehangatan dan hubungan perseorangan yang sesuai/cocok.

è  Faktor ini juga menunjukkan derajat seberapa jauh arti penerimaan dan persetujuan orang lain bagi dirinya.

è  Di lain pihak, faktor ini juga menunjukkan derajat seberapa besar seseorang merasa kurang senang atau merasa terluka akibat penolakan, isolasi atau ketidaksetujuan dari orang lain.

R: theoritical type  (peran – orang teoritis)

è Faktor ini menunjukkan kesukaan seseorang terhadap pemikiran-pemikiran analitis dan konseptual, kemampuannya untuk menangani pandangan/pemikiran abstrak.

è Faktor ini menunjukkan cara yang lebih disukainya dalam bekerja secara mental, dan bukan petunjuk terhadap kecepatannya bereaksi secara mental atau terhadap inteligensinya.

D: interest in working with details  (peran – berminat bekerja dengan hal-hal rinci)

è Faktor ini menyatakan kesigapan seseorang untuk menggunakan waktunya dalam mempertim-bangkan/pemikiran detail dari setiap aspek dalam suatu tugas atau pekerjaan.

è Faktor ini menunjukkan kesukaan seseorang terhadap hal-hal detail.

C: Organized type  (peran – mengatur)

è Faktor ini menunjukkan tingkat seberapa jauh seseorang menempatkan  keteraturan, sistem dan prosedur pada diri sendiri dan pada lingkungan kerjanya.

è Faktor ini menunjukkan derajat atau tingkat pentingnya berada dalam situasi kerja yang terstruktur, terorganisasi, dan rapi serta mempunyai metode sebagai pembeda terhadap pendekatan apa adanya dari orang-orang yang cenderung “seadanya saja”.

Z: need for change  (kebutuhan akan perubahan)

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh keinginan seseorang terhadap adanya variasi, stimulasi dan inovasi dalam pekerjaannya.

è Kondisi ekstrimnya adalah keinginan seseorang untuk berada pada lingkungannya yang rutin, aman dan dapat diperkirakan perubahannya

è Di lain pihak kebutuhan terhadap adanya perubahan yang terus menerus tanpa henti di lingkungan kerjanya.

E: emotional restraint

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh kemampuan seseorang untuk menahan atau melakukan kontrol terhadap keluarnya atau terekspresikannya perasaannya atau emosinya.

è Faktor ini menunjukkan tingkat sikap seseorang terhadap disiplin, terhadap kemampuan seseorang untuk tidak menunjukkan emosinya atau sebaliknya terhadap mereka yang bersikap sangat terbuka dalam menampilkan/memperlihatkan perasaan/emosinya.

K: need to be forceful

è Faktor ini menunjukkan seberapa jauh seseorang memiliki kekuatan emosi dan sikap asertif, yaitu dorongan emosi yang kuat, bahkan yang agresi, dari dalam dirinya.

è Di lain pihak, faktor ini juga menunjukkan tingkat ketidaksukaan seseorang terhadap sikap/perasaan yang keras dan keinginannya untuk berada dalam keadaan yang harmonis dan tidak asertif.

ANALISIS DATA

  • Middle Range : Berarti bahwa individu berada pada tingkat cukup atau rata. Skor vektor 4- 5.
  • Extreme

High Analysis; berarti bahwa individu berada pada tingkat tinggi atau sangat tinggi. Skor vektor 6 – 9.

Low Analysis; berarti bahwa individu berada pada tingkat rendah atau sangat rendah. Skor vektor 0 – 3.

Bagi vektor Z dan K, High Analysis dan Low Analysis-nya berlaku sebaliknya.

  • Adjecent Analysis

Analisis dalam bentuk membandingkan antara vektor yang berada disebelah kiri  dengan vektor yang berada di sebelah kanan (menyilangkan).

  • Opposite Analysis

Analisis dalam bentuk membandingkan antara vektor yang berada di depan/yang saling berhadapan atau berseberangan.

  • Linkage Analysis

Analisis dalam bentuk memperhatikan hasil dari vektor secara keseluruhan (semua vektor dianalisis) kemudian dibuat suatu kesimpulan dari hasil analisis semua vektor tersebut.

  • Vektor Analysis

Analisis dengan cara membandingkan antara salah satu karakteristik vektor yang ekstrim dengan karakteristik vektor ekstriom lainnya, seperti vektor yang sangat tinggi pula, dan sebaliknya, ataupun vektor yang sangat tinggi dengan vektor yang rendah.

Sumber: http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-papi-kostick-perseptual-and.html

Leave a comment »

3 IDIOTS

3 Idiots menceritakan kisah tiga orang sahabat, yang kuliah di Imperial College of Engineering, salah satu perguruan tinggi  terbaik di India. Ketiganya yaitu Farhan Qureshi (R. Madhavan), Rastogi Raju (Sharman Joshi), dan Rancchoddas “Rancho” Shyamaldas Chanchad (Aamir Khan). Farhan dan Raju adalah mahasiswa dengan latar belakang sederhana sementara Rancho dari keluarga kaya. Farhan sebenarnya bercita-cita menjadi seorang fotografer, namun keinginan itu tidak bisa dicapai karena keinginan ayahnya untuk masuk ke perguruan tinggi. Raju menanggung beban untuk mengangkat derajat keluarganya yang miskin. Sementara Rancho adalah si jenius yang kaya raya tujuannya belajar adalah untuk bersenang-senang dan karena kecintaannya kepada dunia tehnik.

Pada saat mengikuti perkuliahan Rancho memiliki pandangan berbeda mengenai cara belajar. Dia berpandangan bahwa belajar yang baik adalah dengan menyenangi dan mengerti perkuliahan tersebut dan menggunakan nalar. Sedangkan dosen yang mengajar hanya berdasarkan “teks book. Ia menentang salah satu pengajarnya Profesor Viru atau biasa di panggil “Virus”(Boman Irani). Hal ini di awali setelah ada salah seorang mahasiswa bernama Joy Lobo, gantung diri di kamar asramanya, karena penemuannya (berupa  syarat untuk kelulusan) yang selalu ditolak. Kemudian Rancho menentang Virus dan memberikan sebuah data banyaknya mahasiswa yang gagal, di sebabkan oleh salahnya metode pengajaran, yang hanya menitik beratkan dari nilai ujian bukan atas dasar kreatifitas diri mahasiswa.

Semenjak itu mulailah perseteruan antara Rancho dan Virus. Virus menjudge Rancho dan ke dua kawan baiknya itu sebagai “idiot”. Ia juga mempengaruhi Farhan dan Raju untuk menjauhi Rancho. Sebaliknya siswa kesayangan Virus adalah Chatur Ramalingam atau “Peredam”, (Omi Vaidya). yang melihat peringkat tertinggi berdasarkan nilai saja.

Rancho jatuh cinta kepada mahasiswi Jurusan Medis, Pia (Kareena Kapoor) putri dari Virus. Namun ketegangan terjadi, saat mereka sedang mabuk berat dan masuk ke rumah Virus seperti maling. Virus mendapati ada yang tidak beres di rumahnya, akhirnya mereka kabur karena takut ketahuan, sementara Raju menyempatkan buang air kecil di pekarangan, dan Viruspun melihat siapa yang menyusup ke rumahnya. Keesokannya, Virus memanggil Raju ke kantor. Mengancam akan mengeluarkannya dari kampus. Raju memohon agar jangan di keluarkan. Ia bisa tetap kuliah namun Rancho akan di keluarkan. Di antara dua pilihan yang cukup sulit. Raju nekat lompat dari jendela kantor virus di lantai 3 dan membuatnya harus di rawat secara intensif. Pia menyarankan agar Raju di bangkitkan dengan motivasi yang bisa membuatnya bisa sembuh dari koma.

Semenjak kejadian itu, Farhan dan Raju mengikuti pandangan Rancho untuk mengikuti suara hati mereka. Farhan memutuskan untuk mengejar kecintaannya kepada fotografi. Menceritakan impiannya kepada ayahnya. Namun ayahnya menolak dan mengatakan, jika tidak maka kau akan bunuh diri seperti temanmu? Sambil menangis Farhan menjawab “tidak”. Kemudian ia bersumpah di depan ayahnya sambil membuka dompetnya yang berisi foto ayah dan ibunya. Farhan berkata, Raju dan Rancho menasehati, jika ia bunuh diri apa yang terjadi pada senyum orang tua mu yang ada di foto ini? Ayahnya pun sadar dan merestui cita-cita anaknya sambil memeluknya.

Ketika Raju menghadiri wawancara untuk sebuah pekerjaan di perusahaan. Ia hadir dengan tubuh yang masih cedera dan duduk di kursi roda. Raju dalam wawancara menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang jujur dan apa adanya. Walaupun sebenarnya jawaban tersebut sangat tidak di harapkan oleh perusahaan, karena mereka butuh orang yng pandai merangkai kebongongan. Namun karena kejujurannya ia di terima bekerja.

Virus tidak simpatik akan kejadian yang dialami Raju, ia bahkan mengakali dengan membuat soal ujian tersendiri agar Raju tidak lulus ujian. Pia mendengar ide ayahnya dan menentangnya. Pia pun marah dan mengatakan bahwa kakaknya tidak tewas dalam kecelakan, tetapi ia bunuh diri di depan kereta dan meninggalkan surat kepada Virus yang selama ini di sembunyikan Pia. Isi surat tersebut adalah pernyataan kakaknya yang merasa terpaksa sekolah di bidang, padahal ia ingin sekali mengejar impiannya di bidang sastra.

Pia keluar dari rumah, mengambil kunci cadangan dan membocorkan hal ini pada Racho. Racho dan Farhan menyusup masuk ke kantor Virus dan mencuri soal ujian tersebut. Namun mereka lupa mematikan mesin fotokopi dan Virus mengetahuinya. Setelah itu berkas soal tersebut di serahkan kepada Raju, tapi Raju membuang kertas tersebut dan mengatakan kepada keduanya bahwa ujian ini tidak boleh di menangkan dengan cara curang.

Selanjutnya Virus memergoki dan mengusir mereka bertiga. Kejadian ini bertepatan dengan anak Virus yaitu Mona (Mona Sigh) yang hamil tua dan tinggal menunggu melahirkan. Saat itu hujan turun sangat deras dan menyebabkan banjir, sehingga tidak dapat mengantar Mona ke Rumah sakit. Sementara Pia tidak di rumah, karena masalah dengan ayahnya. Rachopun memerintahkan menghubungi Pia melalui VOIP, untuk membantu proses persalinan darurat.

Kepanikan terjadi saat listrik tiba-tiba padam. Racho berpikir keras agar bisa menyalakan listrik menggunakan power baterai dari mobil Virus. Pia panik dan menyuruh Rancho menyiapkan penyedot untuk menarik bayi. Saat genting tersebut mereka tidak bisa menemukan alat seperti itu. Racho pun mengakalinya dengan membuat alat itu dari Vaccuum cleaner  yang ia modifikasi. Bayipun lahir, akan tetapi tidak bergerak sama sekali dan tidak menangis. Kemudian Rancho mengendong bayi dan mengucapkan “all is well”. Bayi akhirnya menendang muka Rancho beberapa kali dan mulai menangis, kontan mereka semua bergembira dan terharu.

Dari kejadian ini, Viru menyadari sikap dictator nya selama ini, dan mengatakan pada bayi “ia boleh jadi apa saja yang ia mau!,” termasuk jadi pemain bola. Rancho harus bergegas karena ia sudah di usir, Virupun menghampirinya dan memberikan sebuah pena, pemberian sebuah pena merupakan simbol seseorang Profesor kepada muridnya yang berprestasi dan cemerlang. Dan Viru mengakuinya bahwa murid itu adalah Rancho.

Setelah, acara wisuda dan kelulusan. Rancho kehilangan kontak dengan Raju dan Farhan. Selama dekade itu pula Chatur masih menyimpan dendam kepada Rancho, setelah kejadian dipermalukannya dia oleh 3 idiot, saat pidato penghargaannya di depan umum. Chatur bergabung bersama Farhan dan Raju, memulai perjalanan untuk menemukan Rancho. Chatur telah menjadi pengusaha kaya dan sukses dengan tujuan akan memamerken keberhasilannya tersebut kepada Rancho. Chatur juga ingin menunjukan kadar gengsinya yang begitu tinggi. Akan kerja sama dengan calon rekan bisnis yang memiliki banyak sekali paten bernama Phunsukh Wangru yang merupakan orang yang sangat Chatur kagumi.

Akhirnya mereka menemukan rumah Rancho, namun Raju dan Farhan menemukan Shyamaldas Chanchad (Rancho) adalah orang lain, bukan Rancho yang selama ini mereka kenal. Keluarga Rancho Jaaved Jaffrey membiayai Rancho untuk belajar dengan perjanjian Rancho memakai nama Shyamaldas Chanchad di izajahnya. Rancho tidak peduli ia hanya ingin belajar, itulah sebabnya kenapa pada photo mahasiswa-mahasiswa di Imperial College of Engineering bukan photo Rancho melainkan foto orang lain yaitu orang yang sekarang menceritakan tentang Rancho teman Raju dan Farhan. Ranho pun sekarang memulai hidup baru dengan menjadi guru di Ladakh.

Keadaan semakin membingungkan setelah Raju dan Farhan mengertahui cerita tersebut. Mereka menculik Pia yang hendak menikah dengan orang lain. Pia pun ikut serta dalam pencarian Rancho yang menghilang tanpa jejak, karena ia sangat mencintainya. Sesampainya di Ladakh, mereka mendapati sekelompok anak Ladakh sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan, sementara Chatur hanya mencela bahwa Rancho hanya menjadi seorang guru, bukan pebisnis terkenal. Sampai-sampai hal ini membuat Raju dan Farhan marah, kemudian memplester mulut Chatur dan meletakkannya di belakang jok mobil. Sementara, Pia berharap Rancho palsu akan kembali bisa menyalakan api cinta mereka yang selama ini terpendam.

Setelah bertanya keberadaan Rancho palsu, akhirnya mereka menemukannya sedang bermain dengan anak-anak. Setelah Pia mengetahui cerita dari Rancho palsu mengenai perjanjiannya dengan keluarga tersebut. Pia pun mengerti. Tidak lama, Farhan dan Raju datang, memukuli Rancho palsu. Sampai akhirnya mereka berpelukan karena rindu. Raju dan Farhan kemudian bertanya tentang nama asli Rancho. Rancho menjawab, Phunsukh Wangru. Pia terkejut dan berkata Wangru pemilik paten itu, yang sekarang di kejar-kejar pengusaha dari jepang untuk bekerja sama?

Chatur datang terakhir, menertawakan Rancho yang sekarang tidak menjadi apa-apa dan sesukses dirinya. Bahkan ia menuduh Rancho mengambil pulpen milik Viru, kemudian pergi seolah-olah ia adalah pemenangnya. Setelah agak jauh ia menelepon Chatur, dan dia berbicara sangat sopa. Kemudian Rancho palsu alias Wangru, mengatakan kepada Chatur : “Bagaimana saya bisa menandatangani kesepakatan kita, jika pulpen saya anda ambil”. Chatur terkejut dan berbalik arah memohon maaf atas kekeliruannya. Sementara hanya di balas tawa oleh Wangru, Pia, Farhan dan Raju.

Saya memilih film ini karena banyak pelajaran yang bisa diambil, baik dari segi pendidikan, kreatifitas, maupun rasa simpatik seseorang terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun. Film 3 idiot ingin menunjukkan bagaimana cara belajar yang menyenangkan dan jangan menjadikan belajar itu menjadi sebuah beban. Selain itu juga membantu seseorang melihat hal yang dia sukai agar lebih dieksplor lagi. Terutama bagi orang yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, agar jangan salah memilih jurusan dan akhirnya pada saat bekerja nanti perkuliahan yang telah ditempuh beberapa tahun tidak dapat dipergunakan.

Pelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah jangan takut menentang sesuatu hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dan yakin tetap memperjuangkannya selama kita yakin bahwa kita benar.

Leave a comment »

Teknik Terapi Menurut Aliran Psikoanalisis dan Humanistik

Teknik Terapi Menurut Aliran Psikoanalisis

Dalam psikoanalisis terdapat 5 teknik terapi psikoanalisis, yaitu :
1. Asosiasi Bebas, merupakan teknik sentral dari psikoanalisis. Esensinya adalah bahwa klien melaju bersama pikirannya ataupun pendapat dengan jalan serta melaporkannya tanpa ada sensor. Asosiasi merupakan salah satu dari peralatan dasar sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan,konflik,serta motivasi yang tidak disadari. (Corey, 1995; 174)
2. Interpretasi, terdiri dari apa yang oleh penganalisis dinyatakan, diterangkan, dan bahkan diajarkan kepada klien arti dari perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, penentangan dan hubungan teraupetik itu sendiri. Fungsinya adalah memberi peluang kepada ego untuk mengasimilasikan materi baru dan dan untuk mempercepat proses menguak materi diluar kesadaran selanjutnya (Corey, 1995; 174)
3. Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk bisa mengungkapkan materi tidak disadari dan untuk bisa memberi klien suatu wawasan ke dalam kawasan problem yang tak terselesaikan (Corey, 1995; 175)
4. Analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensinya konselor meminta klien menafsirkan resistensi (Willis, 2004: 63).
5. Analisis transferensi. Konselor mengusakan klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neorosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar terungkap transferensi tersebut (Willis, 2004: 63)

Teknik Terapi Menurut Aliran Humanistik

Dalam humanistik terdapat teknik terapi yang disebut dengan client centred. Pendekatan client centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dam fenomenalnya. Pendekatan client centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan client untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapiutik antara terapis dan client merupakan katalisator bagi perubahan.
Menurut Roger, Konseling dan Psikoterapi tidak mempunyai perbedaan. Konseling yang berpusat pada klien sebagai konsep dan alat baru dalam terapi yang dapat diterapkan pada orang dewasa, remaja, dan anak-anak.
Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.

Diambil dari berbagai sumber

Leave a comment »

Psikoterapi

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.

Psikoterapi diberikan oleh psikolog kepada kliennya saat klien tersebut berkonsultasi. Psikoterapi berfungsi untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan klien. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, bahkan phobia sekalipun, seperti memulai memasuki perkuliahan, masalah dalam keluarga atau phobia terhadap sesuatu ( seperti ketinggian dan ketakutan terhadap binatang tertentu).

Menurut Carl Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini juga digunakan untuk orang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Menurut pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif (pemeliharan dan pengembangan jiwa yang sehat).

Psikoterapi dapat berupa terapi humanistik (mendukung betapa agungnya manusia ini, betapa berharganya manusia ini dan beraktulisasi diri), terapi dapat berupa terapi dari frued seperti psikoanalisa yang berupa analisa mimpi dan asosiasi bebas, terapi behavioristik (punisment and reward).
untuk mengubah kebiasaan hidup atau trauma memang lebih bagus menggunakan hipnoterapi atau terapi zaman modern yang sedang berkembang untuk saat ini. Terapi juga bertujuan untuk mengubah mindset dan menggali alam bawah sadar menjadi sadar.

Psikoterapi sangat berguna untuk:
1. Membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, memberi perspektif masa depan yang lebih cerah.
2. Membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi, dan
3. Membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan pengobatannya.

Atkinson mengemukakan enam teknik psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog, antara lain :
• Teknik Terapi Psikoanalisa
• Teknik Terapi Perilaku
• Teknik Terapi Kognitif Perilaku
• Tenik Terapi Humanistik
• Teknik Terapi Eklektik atau Integratif
• Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga

Sumber :
http://belajarpsikologi.com/sebuah-pengantar-psikoterapi/
http://www.scribd.com/doc/54765094/pengertian-psikoterapi

Leave a comment »