Belajar memaafkan dan minta maaf

Bermula dari libur lebaran, kakakku (Gloria) dan suaminya bang Raja akan melangsungkan resepsinya yang ketiga di Singkawang. Dari awal memang aku tidak berencana ikut, karena bapak-mama juga baru datang ke Jakarta. Lagian kan yang datang mereka aja, aku dan abang-abang juga tidak ada yang hadir. Jadi diputuskan untuk aku tidak ikut ke Singkawang (sebenernya sih pengaruh tiket yang mahal juga :p)

            Sewaktu kakak nikah dengan mengadakan 2 kali resepsi saja aku sudah berdecak kagum, apalagi mama bilang akan mengadakan resepsi kembali di Singkawang. Itu dikarenakan profesi orang tuaku sebagai Pendeta, yang menjadikan jemaatnya yang ada di mana-mana (makanya kakak mengadakan 3 resepsi di 3 pulau (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan). Ini juga berpengaruh karena kakakku adalah anak pertama yang menikah, dengan melangkahi abangku yang pertama (yang sebentar lagi akan berencana menyusul kakakku, Amin!) menjadikan resepsinya diadakan lagi di Singkawang. Awalnya sempet terpikir, kakak aja bisa 3x resepsi aku juga kalau nikah akan kayak gitu ah. Hehe

            Setelah tiba hari sabtu  tanggal 3 Agustus 2013, kakak dan b.Raja berangkat pagi jam 09.10 padahal pesawatnya jam 13.50 (kalau tidak salah). Kakak sih alesannya takut macet jalan ke bandara karena puncak arus mudik. Ternyata dugaan kakak melenceng, mereka sudah sampai di bandara jam 10.08. Namun dari pengaduan abang iparku, mereka macet saat chek-in, yah setidaknya dugaan kakakku ada benarnya juga..hehehe

            Dari perbincangan kami, abangku yang ketiga (b.Satdes) katanya akan menemaniku selama liburan ditinggal kakak, awalnya dia mengajakku berlibur ke pulau seribu bersama teman-temannya tapi aku memilih tidak ikut dan dia juga tidak. Setelah kakak berangkat, aku sudah minta salah seorang temanku untuk menemaniku di rumah, namun dia belum memberi kepastian. Dari siang aku ke luar rumah untuk pergi mengikuti acara syukuran ke rumah salah satu mantan naposo yang baru melangsungkan pernikahan di kampung. Sorenya jam 18.00-20.00 aku akan mengikuti latihan badminton, karena pada hari sabtu ini, kami akan bertanding melawan naposo gereja-gereja lain dalam rangka memenuhi undangan parheheon naposo HKBP Rawamangun. Setelah selesai latihan, aku menghubungi temanku, namun dia tidak bisa. Sebenernya kesal, kenapa dia tidak memberitahu dari awal tapi yasudahlah.

            Sebenarnya dari jam 16.19 b.Satdes menanyakanku lagi dimana dan nanti malam kemana? Namun sewaktu aku minta dia menemaniku dia bilang gak bisa. Kesel banget, adeknya ditinggal sendiri di rumah.huhuhu.. Malamnya aku pulang ke rumah sendirian dari latihan badminton, aku menelpon si abang tapi tidak ada respon, akupun menelpon bapak untuk berbicara dengan bapak-mama dan kakak di sana, setidaknya menemaniku sebelum tidur, namun telponku juga tidak ada respon . Akhirnya aku tidur sendiri di rumah. Pagi ini aku gereja jam 06.00 di HKBP Suprapto, padahal sebenernya hari ini aku ada pelayanan paduan suara di ibadah sore jam 18.00 di HKBP Semper, namun aku mengurungkan niatku karena aku ingin ke Cibinong berkumpul bersama-sama saudaraku di sana (termasuk bertemu abangku yang menyebalkan satu itu, tapi tetap aku sayang J)

            Sampai siang, b.Satdes pun tidak ada menanyakan kenapa aku nelpon semalem, bapakpun tidak ada telpon balik (kalau bapak dimaklumi karena hp im3 nya mungkin belom di cek dari semalem, lagi pula hari minggu pasti bapak sibuk dengan pelayanannya). Kesal luar biasa sama b. Satdes, akhirnya aku yang menghubungi dengan rasa kesal yang berkecamuk karena merasa tidak diperdulikan. Saat chat ku di bales, aku tidak meresponnya kembali. Sampai akhirnya abangku yang pertama (b.Posan) menelpon, aku sempat membiarkannya karena masih kesal. Padahal gak ada hubungannya sama b.Posan.hehe Aku membuat pesan di grup whatsaapp keluargaku mengenai kekesalanku, akhirnya b.posan menelponku untuk yang kedua kalinya dan aku pun mengangkatnya, dengan suara bergetar diikuti air mata yang menetes tanpa kusadari. Bisa dibilang air mata itu adalah rasa haru akhirnya ada yang menghubungiku (haha.. sedihnya..) setelah berbicara panjang lebar ternyata abang datang juga ke Singkawang, dia membuat surprise datang tiba-tiba. Semakin kesal saja, namun abang dan mama langsung menawarkanku untuk segera mencari tiket untuk berangkat ke Singkawang besok. Mereka tidak tega mendengar tangisanku, namun aku mengatakan tidak bisa karena hari sabtu aku akan tanding badminton. Di telpon aku menceritakan kekesalanku karena tidak ada yang menanyakan kabarku, terutama b.Satdes yang konteksnya kami berada di Jakarta.

Setelah selesai menelpon,  b.Satdes pun membalas chat di grup dengan nada kesal juga. Akhirnya kami berdua saling menyalahkan satu sama lain, abang mengatakan aku manja, tidak mandiri, mencari-cari perhatian, bilang aku selalu merepotkan orang. Semakin teriris rasanya hati ini. Hingga akhirnya aku bilang, baru kali ini aku merasakan sakit hati sesakit ini sama abang sendiri, namun kata-kata itupun direspon balik. Abang bilang dia juga sering sakit hati sama omonganku. Dengan rasa sakit di hati akupun bilang di grup, bahwa ”aku gak akan minta perhatian sama orang bapak-mama, abang dan kakak kalau aku gak sayang sama kalian. Karena aku sayang sama kalian makanya aku butuh perhatian kalian. Kalaupun aku mandiri, aku tetap butuh kasih sayang kalian” Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi obrolan ini, lebih baik aku tidak menghubunginya lagi pikirku. Sempat beberapa lama aku terdiam dan menangis. Aku pun melanjutkan pekerjaan rumah kembali. Setelah semua beres, akupun kembali berpikir, orang tuaku tidak pernah mengajarkan kami untuk berlama-lama saling diam-diaman, apalagi menyimpan kesal dan dendam. Akupun memutuskan untuk membuat tulisan ini sebagai permintaan maaf dan rasa sayangku untuk keluargaku. Aku terpikir membuat tulisan ini karena teringat akan bacaan Alkitab dari Matius 18:21-22 yang isinya: kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ”Tuhan , sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya :”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Maka dengan rasa yang menggebu-gebu akupun bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini sebelum pagi menyingsing, bahkan sampai aku menunda berangkat ke cibinong, karena mama sering bilang (sama seperti di Alkitab) tertulis di Efesus 4:26 isinya : Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.

Maaf yah Pa-Ma, b.Posan, k.Gloria, b. Satdes dan keluarga baru kami (b.Raja) kalau aku ada salah. Aku sangat mengasihi kalian. God bless us and love you all J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: